Sampingan

PENGETAHUAN DASAR HAIV-AIDS

DEFINISI

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.

 

ETIOLOGI

HIV ialah retrovirus yang di sebut lymphadenopathy Associated virus (LAV) atau human T-cell leukemia virus 111  (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell lymphotrophic virus (retrovirus) LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun 1983 di prancis, sedangkan HTLV-111 di temukan oleh Gallo di amerika serikat pada tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak di temukan di afrika tengah. Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau afrika,70% dalam darahnya mengandung virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.

HIV terdiri atas HIV-1 DAN HIV-2 terbanyak karena HIV-1 terdiri atas dua untaian RNA dalam inti protein yang di lindungi envelop lipid asal sel hospes.

Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan mempunyai kemampuan untuk merusak sel darah putih spesifik yang di sebut limposit T-helper atau limposit pembawa factor T4 (CD4). Virus ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper secara progresif dan menimbulkan imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi sekunder atau oportunistik oleh kuman,jamur, virus dan parasit serta neoplasma. Sekali virus AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan berada dalam tubuh korban untuk seumur hidup. Badan penderita akan mengadakan reaksi terhapat invasi virus AIDS dengan jalan membentuk antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang agaknya tidak dapat menetralisasi virus tersebut dengan cara-cara yang biasa sehingga penderita tetap akan merupakan individu yang infektif dan merupakan bahaya yang dapat menularkan virusnya pada orang lain di sekelilingnya. Kebanyakan orang yang terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau sama sekali tidak sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat berlangsung dan berkembang menjadi AIDS yang full-blown.

KLASIFIKASI

Pohon kekerabatan (filogenetik) yang menunjukkan kedekatan SIV dan HIV.

Kedua spesies HIV yang menginfeksi manusia (HIV-1 dan -2) pada mulanya berasal dari Afrika barat dan tengah, berpindah dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis. HIV-1 merupakan hasil evolusi dari simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte. Sedangkan, HIV-2 merupakan spesies virus hasil evolusi strain SIV yang berbeda (SIVsmm), ditemukan pada Sooty mangabeymonyet dunia lamaGuinea-Bissau. Sebagian besar infeksi HIV di dunia disebabkan oleh HIV-1 karena spesies virus ini lebih virulen dan lebih mudah menular dibandingkan HIV-2. Sedangkan, HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat.

Berdasarkan susuanan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu M, N, dan O. Kelompok HIV-1 M terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Sementara pada kelompok N dan O belum diketahui secara jelas jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya. Namun, kedua kelompok tersebut memiliki kekerabatan dengan SIV dari simpanse. HIV-2 memiliki 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang berbeda-beda.

Apabila beberapa virus HIV dengan subtipe yang berbeda menginfeksi satu individu yang sama, maka akan terjadi bentuk rekombinan sirkulasi (circulating recombinant forms – CRF) (bahasa Inggris: circulating recombinant form, CRF). Bagian dari genom beberapa subtipe HIV yang berbeda akan bergabung dan membentuk satu genom utuh yang baru. Bentuk rekombinan yang pertama kali ditemukan adalah rekombinan AG dari Afrika tengah dan barat, kemudian rekombinan AGI dari Yunani dan Siprus, kemudian rekombinan AB dari Rusia dan AE dari Asia tenggara. Dari seluruh infeksi HIV yang terjadi di dunia, sebanyak 47% kasus disebabkan oleh subtipe C, 27% berupa CRF02_AG, 12,3% berupa subtipe B, 5.3% adalah subtipe D dan 3.2% merupakan CRF AE, sedangkan sisanya berasal dari subtipe dan CRF lain.

 

PATOFISIOLOGI

HIV tergolong ke dalam kelompok virus yang dikenal sebagai retrovirus yang menunjukkan bahwa virus terse­but membawa materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam deoksiribonukleat (DNA). Virion HIV (partikel virus yang lengkap dan dibungkus oleh selubung pelindung) mengandung RNA dalam inti berbentuk peluru terpancung dimana p24 merupakan komponen struktural yang utama. Tombol yang menonjol lewat dinding virus terdiri atas protein gp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian yang secara selektif berikatan dengan sel-sel CD4-posisitf (CD4+) adalah gp120 dari HIV.

Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper (yang dinamakan sel-sel CD4+ kalau dikaitkan dengan infeksi HIV); limfosit T4 helper ini merupakan sel yang paling banyak di antara ketiga sel di atas. Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen.
Menurut Smeltzer siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sam­pai sel yang terinfeksi diaktifkan. Aktivasi sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen, mitogen, sitokin (TNF alfa atau interleukin l) atau produk gen virus seperti sitomegalovirus (CMV; cytomegalovirus), virus Epstein-Barr, herpes simpleks dan hepatitis. Seba­gai akibatnya, pada saat sel T4 yang terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan dihancurkan. HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas ke dalam plasma darah dan menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya.

Infeksi HIV pada monosit dan makrofag tampaknya berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna, tetapi sel-sel itu menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut ke seluruh tubuh lewat sistem itu untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Sebagian besar jaringan itu dapat mengandung molekul CD4+ atau memiliki kemampuan untuk memproduksinya.

Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial, kurang-lebih 25% dari sel-sel kelenjar limfe akan terin­feksi oleh HIV pula. Replikasi virus akan berlangsung ­terus sepanjang perjalanan infeksi HIV; tempat primernya adalah jaringan limfoid. Ketika sistem imun terstimulasi. replikasi virus akan terjadi dan virus tersebut menyebar ke dalam plasma darah yang mengakibatkan infeksi ber­ikutnya pada sel-sel CD4+ yang lain. Penelitian yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa sistem imun pada infeksi HIV lebih aktif daripada yang diperkirakan sebe­lumnya sebagaimana dibuktikan oleh produksi sebanyak dua milyar limfosit CD4+ per hari. Keseluruhan populasi sel-sel CD4+ perifer akan mengalami “pergantian (turn over)” setiap 15 hari sekali.

Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan de­ngan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi terse­but. Jika orang tersebut tidak sedang berperang melawan infeksi yang lain; reproduksi HIV berjalan dengan lam­bat. Namun, reproduksi HIV tampaknya akan dipercepat kalau penderitanya sedang menghadapi infeksi lain atau kalau sistem imunnya terstimulasi. Keadaan ini dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan oleh seba­gian penderita sesudah terinfeksi HIV. Sebagai contoh, seorang pasien mungkin bebas dari gejala selama berpu­luh tahun; kendati demikian, sebagian besar orang yang terinfeksi HIV (sampai 65%) tetap menderita penyakit HIV atau AIDS yang simtomatik dalam waktu 10 tahun sesudah orang tersebut terinfeksi. Dalam respons imun, limfosit T4 memainkan bebe­rapa peranan yang penting, yaitu: mengenali antigen yang asing, mengaktifkan Limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksik, memproduk­si limfokin dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi limfosit T4 terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan sakit yang serius. Infeksi dan malignansi yang timbul sebagai akibat dari gangguan sistem imun dinamakan infeksi oportunistik.

 

MANIFESTASI KLINIS

Gejala dini yang sering dijumpai berupa eksantem, malaise, demam yang menyerupai flu biasa sebelum tes serologi positif. Gejala dini lainnya berupa penurunan berat badan lebih dari 10% dari berat badan semula, berkeringat malam, diare kronik, kelelahan, limfadenopati. Beberapa ahli klinik telah membagi beberapa fase infeksi HIV yaitu :

1.Infeksi HIV Stadium Pertama

Pada fase pertama terjadi pembentukan antibodi dan memungkinkan juga terjadi gejala-gejala yang mirip influenza atau terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.

2.Persisten Generalized Limfadenopati

Terjadi pembengkakan kelenjar limfe di leher, ketiak, inguinal, keringat pada waktu malam atau kehilangan berat badan tanpa penyebab yang jelas dan sariawan oleh jamur kandida di mulut.

3.AIDS Relative Complex (ARC)

Virus sudah menimbulkan kemunduran pada sistem kekebalan sehingga mulai terjadi berbagai jenis infeksi yang seharusnya dapat dicegah oleh kekebalan tubuh. Disini penderita menunjukkan gejala lemah, lesu, demam, diare, yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya dan berlangsung lama, kadang-kadang lebih dari satu tahun, ditambah dengan gejala yang sudah timbul pada fase kedua.

4.Full Blown AIDS.

Pada fase ini sistem kekebalan tubuh sudah rusak, penderita sangat rentan terhadap infeksi sehingga dapat meninggal sewaktu-waktu. Sering terjadi radang paru pneumocytik, sarcoma kaposi, herpes yang meluas, tuberculosis oleh kuman opportunistik, gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga penderita pikun sebelum saatnya. Jarang penderita bertahan lebih dari 3-4 tahun, biasanya meninggal sebelum waktunya.

 

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan Diagnostik di bagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Pemeriksaan Laboratorium
  2. Tes Antibody
  3. Pelacakan HIV

yang terdiri dari:

Serologis : Tes Antibody Serum, Tes Western Blot, Sel T Limfosit, Sel T4 Helper, T8 (sel supresor sitopatik), P24, Kadar Ig, Reaksi Rantai Polimerasi dan Tes PHS 

Neurologis : EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)

Tes Lainnya : Sinar X Dada, Tes Fungsi Pulmonal, Scan Gallium, Biopsi.

Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3-12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6-12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985, Food And Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar HIV bagi semua pendonor darah atau plasma, tes tersebut adalah:

ELISA

Western Blot Assay

Indirect Immunoflourensence

RIPA

Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV=1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengan titer p24 punya kemungkinan lebih lanjut       lebih    besar    dari      menjadi           AIDS.

Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus (viral burden) AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.
HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gelas bekas dipakai penderita, handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh. Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.

 

KOMPLIKASI

  1. Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.

B. Neurologik

1. Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.

2. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.

3. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.

4. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)

C. Gastrointestinal

1. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma   Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.

2. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.

3. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.

 

 

D. Respirasi

Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek  ,batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.

E. Dermatologik

Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.

F. Sensorik

– Pandangan    :Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan

– Pendengaran :Otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

 

PENATALAKSANAAN MEDIS

Penatalaksanaan HIV -AIDS pada dasarnya meliputi aspek Medis Klinis, Psikologis dan Aspek Sosial.

1. Aspek Medis meliputi :

a. Pengobatan Suportif.

Penilaian gizi penderita sangat perlu dilakukan dari awal sehingga tidak terjadi hal hal yang berlebihan dalam pemberian nutrisi atau terjadi kekurangan nutrisi yang dapat menyebabkan perburukan keadaan penderita dengan cepat. Penyajian makanan hendaknya bervariatif sehingga penderita dapat tetap berselera makan. Bila nafsu makan penderita sangat menurun dapat dipertimbangkan pemakaian obat Anabolik Steroid. Proses Penyedian makanan sangat perlu diperhatikan agar pada saat proses tidak terjadi penularan yang fatal tanpa kita sadari. Seperti misalnya pemakaian alat-alat memasak, pisau untuk memotong daging tidak boleh digunakan untuk mengupas buah, hal ini di maksudkan untuk mencegah terjadinya penularan Toksoplasma, begitu juga sebaliknya untuk mencegah penularan jamur.

b. Pencegahan dan pengobatan infeksi Oportunistik.

Meliputi penyakit infeksi Oportunistik yang sering terdapat pada penderita infeksi HIV dan AIDS.

1)      Tuberkulosis

Sejak epidemi AIDS maka kasus TBC meningkat kembali. Dosis INH 300 mg setiap hari dengan vit B6 50 mg paling tidak untuk masa satu tahun.

2)      Toksoplasmosis

Sangat perlu diperhatikan makanan yang kurang masak terutama daging yang kurang matang. Obat :  TMP-SMX  1 dosis/hari.

3)      CMV

Virus ini dapat menyebabkan Retinitis dan dapat menimbulkan kebutaam. Ensefalitis, Pnemonitis pada paru, infeksi saluran cernak yang dapat menyebabkan luka pada usus. Obat  :  Gansiklovir kapsul 1 gram tiga kali sehari.

4)      Jamur

<br>

Jamur yang paling sering ditemukan pada penderita AIDS adalah jamur Kandida. Obat  :  Nistatin  500.000 u per hari Flukonazol 100 mg per hari.

c. Pengobatan Antiretroviral (ARV)

1) Jangan gunakan obat tunggal atau 2 obat

2) Selalu gunakan minimal kombinasi 3 ARV disebut “HAART” (Highly Active Anti Retroviral therapy)

3) Kombinasi ARV lini pertama pasien naïve (belum pernah pakai ARV sebelumnya) yang dianjurkan : 2NRTI + 1 NNRTI.

4) Di Indonesia :

a) Lini pertama            : AZT + 3TC + EFV atau NVP

b) Alternatif                : d4T + 3TC + EFV atau NVP AZT atau d4T + 3TC + 1PI (LPV/r)

5) Terapi seumur hidup, mutlak perlu kepatuhan karena resiko cepat terjadi resisten bila sering lupa minum obat.

2.      Aspek Psikologis, meliputi :

a.       Perawatan personal dan dihargai

b.      Mempunyai seseorang untuk diajak bicara tentang masalah-masalahnya

c.       Jawaban-jawaban yang jujur dari lingkungannya

d.      Tindak lanjut medis

e.       Mengurangi penghalang untuk pengobatan

f.       Pendidikan/penyuluhan tentang kondisi mereka

3.      Aspek Sosial.

Seorang penderita HIV AIDS setidaknya membutuhkan bentuk dukungan dari

lingkungan sosialnya. Dimensi dukungan sosial meliputi 3 hal:

a.       Emotional support, miliputi; perasaan nyaman, dihargai, dicintai, dan diperhatikan

b.      Cognitive support, meliputi informasi, pengetahuan dan nasehat

c.       Materials support, meliputi bantuan / pelayanan berupa sesuatu barang dalam mengatasi suatu masalah. (Nursalam, 2007)

Dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau kualitas hubungan perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang paling penting. House (2006) membedakan empat jenis dimensi dukungan social :

a.       Dukungan Emosional

Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap pasien dengan HIV AIDS yang bersangkutan

b.      Dukungan Penghargaan

Terjadi lewat ungkapan hormat / penghargaan positif untuk orang lain itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain

c.       Dukungan Instrumental

Mencakup bantuan langsung misalnya orang memberi pinjaman uang, kepada penderita HIV AIDS yang membutuhkan untuk pengobatannya

d.      Dukungan Informatif

Mencakup pemberian nasehat, petunjuk, sarana.

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

No Fokus Pengkajian Gejala Tanda
1 Aktivitas /Istirahat mudah lelah, toleransi terhadap aktivitas berkurang, progresi kelelahan/malaise, perubahan pola tidur kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan tensi, frekuensi jantung, dan pernapasan
2 Sirkulasi penyembuhan luka lambat (bila anemia), perdarahan lama pada cedera (jarang terjadi) Takikardia, perubahan tensi postural, menurunnya volume nadi perifer, pucat/ sianosis, perpanjangan pengisian kapiler
3 Integritas Ego faktor stres berhubungan dengan kehilangan, mis. dukungan keluarga/orang lain, penghasilan, gaya hidup, distres spiritual, mengkhawatirkan penampilan; alopesia, lesi cacat, menurunnya berat bedan (BB). Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna, rasa bersalah, kehilangan kontrol diri, dan depresi Mengingkari, cemas, depesi, takut, menarik diri, perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang kurang. Gagal menepati janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala yang sama
4 Eliminasi diare yang intermiten, terus menerus, disertai/tanpa kram abdominal. Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi feses encer disertai/tanpa mukus atau darah, diare pekat yang sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rektal, perianal, dan perubahan dalam jumlah, warna, dan karakteristik urin
5 Makanan/Cairan Tidak napsu makan, mual/muntah, perubahan kemampuan mengenali makanan, disfagia, nyeri retrosternal saat menelan dan penurunan BB yang progresif bising usus dapat hiperaktif, kurus, menurunnya lemak subkutan/masa otot, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna pada mulut. Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal, dan edema (umum, dependen)
6 Higiene tidak dapat menyelesaikan aktivitas sehari-hari memperlihatkan penampilan yang tidak rapi, kekurangan dalam perawatan diri, dan aktivitas perawatan diri
7 Neurosensori pusing, sakit kepala, perubahan status mental, berkurangnya kemampuan diri untuk mengatasi masalah, tidak mampu mengingat dan konsentrasi menurun. Kerusakan sensasi atau indera posisi dan getaran, kelemahan otot, tremor, perubahan ketajaman penglihatan, kebas, kesemutan pada ekstrimitas (paling awal pada kaki) perubahan status mental kacau mental sampai dimensia, lupa konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, respon melambat, ide paranoid, ansietas, harapan yang tidak realistis, timbul reflak tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia, tremor, hemoragi retina dan eksudat, hemiparesis, dan kejang
8 Nyeri/Kenyamanan nyeri umum atau lokal, sakit, rasa terbakar pada kaki, sakit kepala (keterlibatan SSP), nyeri dada pleuritis pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentang gerak (ROM), perubahan gaya berjalan/pincang, gerak otot melindungi bagian yang sakit
9 Pernapasan napas pendek yang progresif, batuk (sedang-parah), batuk produktif/ nonproduktif, bendungan atau sesak pada dada takipnea, distres pernapasan, perubahan bunyi napas/bunyi napas adventisius, sputum kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum)
10 Keamanan riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka lambat sembuh, riwayat transfusi berulang, riwayat penyakit defisiensi imun (kanker tahap lanjut), riwayat infeksi berulang, demam berulang ; suhu rendah, peningkatan suhu intermiten, berkeringat malam perubahan integritas kulit; terpotong, ruam, mis. ruam, eksim, psoriasis, perubahan warna, mudah terjadi memar, luka-luka perianal atau abses, timbul nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe pada dua area atau lebih (mis. leher, ketiak, paha). Kekuatan umum menurun, perubahan pada gaya berjalan
11 Seksualitas riwayat perilaku berisiko tinggi yaitu hubungan seksual dengan pasangan positif HIV, pasangan seksual multipel, aktivitas seksual yang tidak terlindung, dan seks anal. Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seksual, dan penggunaan kondom yang tidak konsisten. Menggunakan pil KB yang meningkatkan kerentanan terhadap virus pada wanita yang diperkirakan dapat terpajan karena peningkatan kekeringan vagina kehamilan atau resiko terhadap hamil, pada genetalia manifestasi kulit (mis. herpes, kutil), dan rabas
12 Interaksi Sosial kehilangan kerabat/orang terdekat, rasa takut untuk mengungkapkan pada orang lain, takut akan penolakan/kehilangan pendapatan, isolasi, kesepian, mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas yang tidak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan

 

DAFTAR PUSTAKA

kerjakesehatan.blogspot.com/2012/12/penatalaksanaan-hiv-aids.html

http://id.wikipedia.org/wiki/HIV

 

Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series

 

Muhajir. 2007. Pendidkan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bandung: Erlangga

 

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiolog Kedokteran. Jakarta Barat: Binarupa Aksara

 

Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

 

Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series

 

http://hanifatunnisaa.wordpress.com/2012/08/24/definisi-sejarah-gejala-cara-penularan-dan-pencegahan-penyakit-hiv-aids/

 

Sampingan

PENGETAHUAN DASAR HAIV-AIDS

DEFINISI

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.

 

ETIOLOGI

HIV ialah retrovirus yang di sebut lymphadenopathy Associated virus (LAV) atau human T-cell leukemia virus 111  (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell lymphotrophic virus (retrovirus) LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun 1983 di prancis, sedangkan HTLV-111 di temukan oleh Gallo di amerika serikat pada tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak di temukan di afrika tengah. Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau afrika,70% dalam darahnya mengandung virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.

HIV terdiri atas HIV-1 DAN HIV-2 terbanyak karena HIV-1 terdiri atas dua untaian RNA dalam inti protein yang di lindungi envelop lipid asal sel hospes.

Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan mempunyai kemampuan untuk merusak sel darah putih spesifik yang di sebut limposit T-helper atau limposit pembawa factor T4 (CD4). Virus ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper secara progresif dan menimbulkan imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi sekunder atau oportunistik oleh kuman,jamur, virus dan parasit serta neoplasma. Sekali virus AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan berada dalam tubuh korban untuk seumur hidup. Badan penderita akan mengadakan reaksi terhapat invasi virus AIDS dengan jalan membentuk antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang agaknya tidak dapat menetralisasi virus tersebut dengan cara-cara yang biasa sehingga penderita tetap akan merupakan individu yang infektif dan merupakan bahaya yang dapat menularkan virusnya pada orang lain di sekelilingnya. Kebanyakan orang yang terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau sama sekali tidak sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat berlangsung dan berkembang menjadi AIDS yang full-blown.

  

KLASIFIKASI

Pohon kekerabatan (filogenetik) yang menunjukkan kedekatan SIV dan HIV.

Kedua spesies HIV yang menginfeksi manusia (HIV-1 dan -2) pada mulanya berasal dari Afrika barat dan tengah, berpindah dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis. HIV-1 merupakan hasil evolusi dari simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte. Sedangkan, HIV-2 merupakan spesies virus hasil evolusi strain SIV yang berbeda (SIVsmm), ditemukan pada Sooty mangabeymonyet dunia lamaGuinea-Bissau. Sebagian besar infeksi HIV di dunia disebabkan oleh HIV-1 karena spesies virus ini lebih virulen dan lebih mudah menular dibandingkan HIV-2. Sedangkan, HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat.

Berdasarkan susuanan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu M, N, dan O. Kelompok HIV-1 M terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Sementara pada kelompok N dan O belum diketahui secara jelas jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya. Namun, kedua kelompok tersebut memiliki kekerabatan dengan SIV dari simpanse. HIV-2 memiliki 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang berbeda-beda.

Apabila beberapa virus HIV dengan subtipe yang berbeda menginfeksi satu individu yang sama, maka akan terjadi bentuk rekombinan sirkulasi (circulating recombinant forms – CRF) (bahasa Inggris: circulating recombinant form, CRF). Bagian dari genom beberapa subtipe HIV yang berbeda akan bergabung dan membentuk satu genom utuh yang baru. Bentuk rekombinan yang pertama kali ditemukan adalah rekombinan AG dari Afrika tengah dan barat, kemudian rekombinan AGI dari Yunani dan Siprus, kemudian rekombinan AB dari Rusia dan AE dari Asia tenggara. Dari seluruh infeksi HIV yang terjadi di dunia, sebanyak 47% kasus disebabkan oleh subtipe C, 27% berupa CRF02_AG, 12,3% berupa subtipe B, 5.3% adalah subtipe D dan 3.2% merupakan CRF AE, sedangkan sisanya berasal dari subtipe dan CRF lain.

 

PATOFISIOLOGI

HIV tergolong ke dalam kelompok virus yang dikenal sebagai retrovirus yang menunjukkan bahwa virus terse­but membawa materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam deoksiribonukleat (DNA). Virion HIV (partikel virus yang lengkap dan dibungkus oleh selubung pelindung) mengandung RNA dalam inti berbentuk peluru terpancung dimana p24 merupakan komponen struktural yang utama. Tombol yang menonjol lewat dinding virus terdiri atas protein gp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian yang secara selektif berikatan dengan sel-sel CD4-posisitf (CD4+) adalah gp120 dari HIV.

Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper (yang dinamakan sel-sel CD4+ kalau dikaitkan dengan infeksi HIV); limfosit T4 helper ini merupakan sel yang paling banyak di antara ketiga sel di atas. Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen.
Menurut Smeltzer siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sam­pai sel yang terinfeksi diaktifkan. Aktivasi sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen, mitogen, sitokin (TNF alfa atau interleukin l) atau produk gen virus seperti sitomegalovirus (CMV; cytomegalovirus), virus Epstein-Barr, herpes simpleks dan hepatitis. Seba­gai akibatnya, pada saat sel T4 yang terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan dihancurkan. HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas ke dalam plasma darah dan menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya.

Infeksi HIV pada monosit dan makrofag tampaknya berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna, tetapi sel-sel itu menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut ke seluruh tubuh lewat sistem itu untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Sebagian besar jaringan itu dapat mengandung molekul CD4+ atau memiliki kemampuan untuk memproduksinya.

Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial, kurang-lebih 25% dari sel-sel kelenjar limfe akan terin­feksi oleh HIV pula. Replikasi virus akan berlangsung ­terus sepanjang perjalanan infeksi HIV; tempat primernya adalah jaringan limfoid. Ketika sistem imun terstimulasi. replikasi virus akan terjadi dan virus tersebut menyebar ke dalam plasma darah yang mengakibatkan infeksi ber­ikutnya pada sel-sel CD4+ yang lain. Penelitian yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa sistem imun pada infeksi HIV lebih aktif daripada yang diperkirakan sebe­lumnya sebagaimana dibuktikan oleh produksi sebanyak dua milyar limfosit CD4+ per hari. Keseluruhan populasi sel-sel CD4+ perifer akan mengalami “pergantian (turn over)” setiap 15 hari sekali.

Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan de­ngan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi terse­but. Jika orang tersebut tidak sedang berperang melawan infeksi yang lain; reproduksi HIV berjalan dengan lam­bat. Namun, reproduksi HIV tampaknya akan dipercepat kalau penderitanya sedang menghadapi infeksi lain atau kalau sistem imunnya terstimulasi. Keadaan ini dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan oleh seba­gian penderita sesudah terinfeksi HIV. Sebagai contoh, seorang pasien mungkin bebas dari gejala selama berpu­luh tahun; kendati demikian, sebagian besar orang yang terinfeksi HIV (sampai 65%) tetap menderita penyakit HIV atau AIDS yang simtomatik dalam waktu 10 tahun sesudah orang tersebut terinfeksi. Dalam respons imun, limfosit T4 memainkan bebe­rapa peranan yang penting, yaitu: mengenali antigen yang asing, mengaktifkan Limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksik, memproduk­si limfokin dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi limfosit T4 terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan sakit yang serius. Infeksi dan malignansi yang timbul sebagai akibat dari gangguan sistem imun dinamakan infeksi oportunistik.

 

MANIFESTASI KLINIS

Gejala dini yang sering dijumpai berupa eksantem, malaise, demam yang menyerupai flu biasa sebelum tes serologi positif. Gejala dini lainnya berupa penurunan berat badan lebih dari 10% dari berat badan semula, berkeringat malam, diare kronik, kelelahan, limfadenopati. Beberapa ahli klinik telah membagi beberapa fase infeksi HIV yaitu :

1.Infeksi HIV Stadium Pertama

Pada fase pertama terjadi pembentukan antibodi dan memungkinkan juga terjadi gejala-gejala yang mirip influenza atau terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.

2.Persisten Generalized Limfadenopati

Terjadi pembengkakan kelenjar limfe di leher, ketiak, inguinal, keringat pada waktu malam atau kehilangan berat badan tanpa penyebab yang jelas dan sariawan oleh jamur kandida di mulut.

3.AIDS Relative Complex (ARC)

Virus sudah menimbulkan kemunduran pada sistem kekebalan sehingga mulai terjadi berbagai jenis infeksi yang seharusnya dapat dicegah oleh kekebalan tubuh. Disini penderita menunjukkan gejala lemah, lesu, demam, diare, yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya dan berlangsung lama, kadang-kadang lebih dari satu tahun, ditambah dengan gejala yang sudah timbul pada fase kedua.

4.Full Blown AIDS.

Pada fase ini sistem kekebalan tubuh sudah rusak, penderita sangat rentan terhadap infeksi sehingga dapat meninggal sewaktu-waktu. Sering terjadi radang paru pneumocytik, sarcoma kaposi, herpes yang meluas, tuberculosis oleh kuman opportunistik, gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga penderita pikun sebelum saatnya. Jarang penderita bertahan lebih dari 3-4 tahun, biasanya meninggal sebelum waktunya.

 

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan Diagnostik di bagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Pemeriksaan Laboratorium
  2. Tes Antibody
  3. Pelacakan HIV

yang terdiri dari:

Serologis : Tes Antibody Serum, Tes Western Blot, Sel T Limfosit, Sel T4 Helper, T8 (sel supresor sitopatik), P24, Kadar Ig, Reaksi Rantai Polimerasi dan Tes PHS 

Neurologis : EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)

Tes Lainnya : Sinar X Dada, Tes Fungsi Pulmonal, Scan Gallium, Biopsi.

 Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3-12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6-12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985, Food And Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar HIV bagi semua pendonor darah atau plasma, tes tersebut adalah:

ELISA

Western Blot Assay

Indirect Immunoflourensence

RIPA

Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV=1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengan titer p24 punya kemungkinan lebih lanjut       lebih    besar    dari      menjadi           AIDS.

Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus (viral burden) AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.
HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gelas bekas dipakai penderita, handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh. Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.

 

KOMPLIKASI

  1. Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.

B. Neurologik

1. Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.

2. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.

3. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.

4. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)

C. Gastrointestinal

1. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma   Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.

2. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.

3. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.

 

 

D. Respirasi

Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek  ,batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.

E. Dermatologik

Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.

F. Sensorik

– Pandangan    :Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan

– Pendengaran :Otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

 

PENATALAKSANAAN MEDIS

Penatalaksanaan HIV -AIDS pada dasarnya meliputi aspek Medis Klinis, Psikologis dan Aspek Sosial.

1. Aspek Medis meliputi :

a. Pengobatan Suportif.

Penilaian gizi penderita sangat perlu dilakukan dari awal sehingga tidak terjadi hal hal yang berlebihan dalam pemberian nutrisi atau terjadi kekurangan nutrisi yang dapat menyebabkan perburukan keadaan penderita dengan cepat. Penyajian makanan hendaknya bervariatif sehingga penderita dapat tetap berselera makan. Bila nafsu makan penderita sangat menurun dapat dipertimbangkan pemakaian obat Anabolik Steroid. Proses Penyedian makanan sangat perlu diperhatikan agar pada saat proses tidak terjadi penularan yang fatal tanpa kita sadari. Seperti misalnya pemakaian alat-alat memasak, pisau untuk memotong daging tidak boleh digunakan untuk mengupas buah, hal ini di maksudkan untuk mencegah terjadinya penularan Toksoplasma, begitu juga sebaliknya untuk mencegah penularan jamur.

b. Pencegahan dan pengobatan infeksi Oportunistik.

Meliputi penyakit infeksi Oportunistik yang sering terdapat pada penderita infeksi HIV dan AIDS.

1)      Tuberkulosis

Sejak epidemi AIDS maka kasus TBC meningkat kembali. Dosis INH 300 mg setiap hari dengan vit B6 50 mg paling tidak untuk masa satu tahun.

2)      Toksoplasmosis

Sangat perlu diperhatikan makanan yang kurang masak terutama daging yang kurang matang. Obat :  TMP-SMX  1 dosis/hari.

3)      CMV

Virus ini dapat menyebabkan Retinitis dan dapat menimbulkan kebutaam. Ensefalitis, Pnemonitis pada paru, infeksi saluran cernak yang dapat menyebabkan luka pada usus. Obat  :  Gansiklovir kapsul 1 gram tiga kali sehari.

4)      Jamur

<br>

Jamur yang paling sering ditemukan pada penderita AIDS adalah jamur Kandida. Obat  :  Nistatin  500.000 u per hari Flukonazol 100 mg per hari.

c. Pengobatan Antiretroviral (ARV)

1) Jangan gunakan obat tunggal atau 2 obat

2) Selalu gunakan minimal kombinasi 3 ARV disebut “HAART” (Highly Active Anti Retroviral therapy)

3) Kombinasi ARV lini pertama pasien naïve (belum pernah pakai ARV sebelumnya) yang dianjurkan : 2NRTI + 1 NNRTI.

4) Di Indonesia :

a) Lini pertama            : AZT + 3TC + EFV atau NVP

b) Alternatif                : d4T + 3TC + EFV atau NVP AZT atau d4T + 3TC + 1PI (LPV/r)

5) Terapi seumur hidup, mutlak perlu kepatuhan karena resiko cepat terjadi resisten bila sering lupa minum obat.

2.      Aspek Psikologis, meliputi :

a.       Perawatan personal dan dihargai

b.      Mempunyai seseorang untuk diajak bicara tentang masalah-masalahnya

c.       Jawaban-jawaban yang jujur dari lingkungannya

d.      Tindak lanjut medis

e.       Mengurangi penghalang untuk pengobatan

f.       Pendidikan/penyuluhan tentang kondisi mereka

3.      Aspek Sosial.

Seorang penderita HIV AIDS setidaknya membutuhkan bentuk dukungan dari

lingkungan sosialnya. Dimensi dukungan sosial meliputi 3 hal:

a.       Emotional support, miliputi; perasaan nyaman, dihargai, dicintai, dan diperhatikan

b.      Cognitive support, meliputi informasi, pengetahuan dan nasehat

c.       Materials support, meliputi bantuan / pelayanan berupa sesuatu barang dalam mengatasi suatu masalah. (Nursalam, 2007)

Dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau kualitas hubungan perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang paling penting. House (2006) membedakan empat jenis dimensi dukungan social :

a.       Dukungan Emosional

Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap pasien dengan HIV AIDS yang bersangkutan

b.      Dukungan Penghargaan

Terjadi lewat ungkapan hormat / penghargaan positif untuk orang lain itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain

c.       Dukungan Instrumental

Mencakup bantuan langsung misalnya orang memberi pinjaman uang, kepada penderita HIV AIDS yang membutuhkan untuk pengobatannya

d.      Dukungan Informatif

Mencakup pemberian nasehat, petunjuk, sarana.

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

No

Fokus Pengkajian

Gejala

Tanda

       

1

Aktivitas /Istirahat

mudah lelah, toleransi terhadap aktivitas berkurang, progresi kelelahan/malaise, perubahan pola tidur

kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan tensi, frekuensi jantung, dan pernapasan

       

2

Sirkulasi

penyembuhan luka lambat (bila anemia), perdarahan lama pada cedera (jarang terjadi)

Takikardia, perubahan tensi postural, menurunnya volume nadi perifer, pucat/ sianosis, perpanjangan pengisian kapiler

       

3

Integritas Ego

faktor stres berhubungan dengan kehilangan, mis. dukungan keluarga/orang lain, penghasilan, gaya hidup, distres spiritual, mengkhawatirkan penampilan; alopesia, lesi cacat, menurunnya berat bedan (BB). Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna, rasa bersalah, kehilangan kontrol diri, dan depresi

Mengingkari, cemas, depesi, takut, menarik diri, perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang kurang. Gagal menepati janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala yang sama

       

4

Eliminasi

diare yang intermiten, terus menerus, disertai/tanpa kram abdominal. Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

feses encer disertai/tanpa mukus atau darah, diare pekat yang sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rektal, perianal, dan perubahan dalam jumlah, warna, dan karakteristik urin

       

5

Makanan/Cairan

Tidak napsu makan, mual/muntah, perubahan kemampuan mengenali makanan, disfagia, nyeri retrosternal saat menelan dan penurunan BB yang progresif

bising usus dapat hiperaktif, kurus, menurunnya lemak subkutan/masa otot, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna pada mulut. Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal, dan edema (umum, dependen)

       

6

Higiene

tidak dapat menyelesaikan aktivitas sehari-hari

memperlihatkan penampilan yang tidak rapi, kekurangan dalam perawatan diri, dan aktivitas perawatan diri

       

7

Neurosensori

pusing, sakit kepala, perubahan status mental, berkurangnya kemampuan diri untuk mengatasi masalah, tidak mampu mengingat dan konsentrasi menurun. Kerusakan sensasi atau indera posisi dan getaran, kelemahan otot, tremor, perubahan ketajaman penglihatan, kebas, kesemutan pada ekstrimitas (paling awal pada kaki)

perubahan status mental kacau mental sampai dimensia, lupa konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, respon melambat, ide paranoid, ansietas, harapan yang tidak realistis, timbul reflak tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia, tremor, hemoragi retina dan eksudat, hemiparesis, dan kejang

       

8

Nyeri/Kenyamanan

nyeri umum atau lokal, sakit, rasa terbakar pada kaki, sakit kepala (keterlibatan SSP), nyeri dada pleuritis

pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentang gerak (ROM), perubahan gaya berjalan/pincang, gerak otot melindungi bagian yang sakit

       

9

Pernapasan

napas pendek yang progresif, batuk (sedang-parah), batuk produktif/ nonproduktif, bendungan atau sesak pada dada

takipnea, distres pernapasan, perubahan bunyi napas/bunyi napas adventisius, sputum kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum)

       

10

Keamanan

riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka lambat sembuh, riwayat transfusi berulang, riwayat penyakit defisiensi imun (kanker tahap lanjut), riwayat infeksi berulang, demam berulang ; suhu rendah, peningkatan suhu intermiten, berkeringat malam

perubahan integritas kulit; terpotong, ruam, mis. ruam, eksim, psoriasis, perubahan warna, mudah terjadi memar, luka-luka perianal atau abses, timbul nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe pada dua area atau lebih (mis. leher, ketiak, paha). Kekuatan umum menurun, perubahan pada gaya berjalan

       

11

Seksualitas

riwayat perilaku berisiko tinggi yaitu hubungan seksual dengan pasangan positif HIV, pasangan seksual multipel, aktivitas seksual yang tidak terlindung, dan seks anal. Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seksual, dan penggunaan kondom yang tidak konsisten. Menggunakan pil KB yang meningkatkan kerentanan terhadap virus pada wanita yang diperkirakan dapat terpajan karena peningkatan kekeringan vagina

kehamilan atau resiko terhadap hamil, pada genetalia manifestasi kulit (mis. herpes, kutil), dan rabas

       

12

Interaksi Sosial

kehilangan kerabat/orang terdekat, rasa takut untuk mengungkapkan pada orang lain, takut akan penolakan/kehilangan pendapatan, isolasi, kesepian, mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana

perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas yang tidak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan

       

 

  

DAFTAR PUSTAKA

kerjakesehatan.blogspot.com/2012/12/penatalaksanaan-hiv-aids.html

http://id.wikipedia.org/wiki/HIV

 

Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series

 

Muhajir. 2007. Pendidkan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bandung: Erlangga

 

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiolog Kedokteran. Jakarta Barat: Binarupa Aksara

 

Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

 

Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series

 

http://hanifatunnisaa.wordpress.com/2012/08/24/definisi-sejarah-gejala-cara-penularan-dan-pencegahan-penyakit-hiv-aids/

 

Standar

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fisioterapi dada adalah cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage, dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelum tidur ada malam hari. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya secret dalam saluran napas tetapi juga mempercepat pengeluaran secret sehingga tidak terjadi atelektasis. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak. PD lebih efektif bila disertai dengan clapping atau perkusi dan vibrating.

1.2 Rumusan Masalah

Didalam makalah ini kami akan membahas tentang Fisioterapi Dada, yaitu : 1.2.1 Pengertian Fisioterapi Dada 1.2.2 Macam-macam Fisioterapi Dada 1.2.3 Tujuan Fisioterapi Dada 1.2.4 Indikasi dan Kontraindikasi Fisioterapi Dada 1 1.3 Tujuan Penulisan : 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum penulisan makalah ini adalah agar kita dapat lebih mengetahui tentang Fisioterapi Dada. 1.3.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah agar para mahasiswa keperawatan mengetahui tentang Fisioterapi Dada yang di dalamnya membahas mengenai postural drainase, Clapping/Perkusi, vibrating, latihan napas dalam dan batuk efektif.

1.4 Manfaat Penulisan

Bagi kita para mahasiswa yang masih dalam pembelajaran yaitu diharapkan lebih dapat memahami dan mengerti mengenai Fisioterapi Dada. 2

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Fisioterapi

Dada Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret, memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage, perkusi, dan vibrasi Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung, status asmatikus, renjatan dan perdarahan masif, sedangkan kontra indikasi relatif seperti infeksi paru berat, patah tulang iga atau luka baru bekas operasi, tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang. 3

2.2 Macam-macam Fisioterapi Dada

2.2.1 Postural drainase

Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi.. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating. Indikasi untuk Postural Drainase a. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada : b. Pasien yang memakai ventilasi c. Pasien yang melakukan tirah baring yang lama d. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis e. Pasien dengan batuk yang tidak efektif . Mobilisasi sekret yang tertahan a. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret b. Pasien dengan abses paru c. Pasien dengan pneumonia d. Pasien pre dan post operatif e. Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk 4 Kontra indikasi untuk postural drainase 1. Tension pneumotoraks 2. Hemoptisis 3. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard akutrd infark dan aritmia. 4. Edema paru 5. Efusi pleura yang luas Persiapan pasien untuk postural drainase 1. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang. 2. Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap. 3. Periksa nadi dan tekanan darah. 4. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret. Cara melakukan pengobatan 1. Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase. 2. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari, bila dilakukan pada beberapa posisi tidak lebih dari 40 menit, tiap satu posisi 3 – 10 menit. 3. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan. Penilaian hasil pengobatan 1. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan. 2. Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama. 3. Apakah batuk telah produktif, apakah sekret sangat encer atau kental. 4. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah, merasa enakan, sakit. 5 5. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign, adakah temperatur dan nadi tekanan darah. 6. Apakah foto toraks ada perbaikan. Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan 1. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam. 2. Suara pernafasan normal atau relative jelas. 3. Foto toraks relative jelas. 4. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk. Alat dan bahan 1. Bantal 2-3 2. Tisu wajah 3. Segelas air hangat 4. Masker 5. Sputum pot Prosedur kerja 1. Jelaskan prosedur 2. Kaji area paru, data klinis, foto x-ray 3. Cuci tangan 4. Pakai masker 5. Dekatkan sputum pot 6. Berikan minum air hangat 7. Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage 8. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating 6 9. Berikan tisu untuk membersihkan sputum 10. Minta pasien untuk duduk, nafas dalam dan batuk efektif 11. Evaluasi respon pasien (pola nafas, sputum: warna, volume, suara pernafasan) 12. Cuci tangan 13. Dokumentasi (jam, hari, tanggal, respon pasien) 14. Jika sputum masih belum bisa keluar, maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien 2.2.2 Clapping/Perkusi Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk kedua tangan deperti mangkok. lndikasi untuk perkusi : Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase, jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan 1. Patah tulang rusuk 2. Emfisema subkutan daerah leher dan dada 3. Skin graf yang baru 4. Luka bakar, infeksi kulit 5. Emboli paru 6. Pneumotoraks tension yang tidak diobati Alat dan bahan 1. Handuk kecil Prosedur kerja 1. Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan 7 2. Anjurkan pasien untuk rileks, napas dalam dengan Purse lips breathing 3. Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok 2.2.3 Vibrating Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar. Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis. Prosedur kerja 1. Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar 2. Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing 3. Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi 4. Istirahatkan pasien 5. Ulangi vibrasi hingga 3X, minta pasien untuk batuk Tujuan -Meningkatkan efisiensi pernapasan dan ekspansi paru -Memperkuat otot pernapasan -Mengeluarkan secret dari saluran pernapasan -Klien dapat bernapas dengan bebas dan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup. 8 Kewaspadaan Perawat Spasme bronkus dapat di cetuskan pada beberapa klien yang menerima darainase postural. Spasme bronkus ini di sebabkan oleh imobilisasi sekret ke dalam jalan napas pusat yang besar, yang meningkatkan kerja napas. Untuk menghadapi resiko spasme bronkus, perawat dapat meminta dokter untuk mulai memberikan terapibronkodilator pada klien selama 20 menit sebelum drainase postural. Indikasi Klien Yang Mendapat Drainase Postural a. Mencegah penumpukan secret yaitu pada: – pasien yang memakai ventilasi – pasien yang melakukan tirah baring yang lama – pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik, bronkiektasis b. Mobilisasi secret yang tertahan : – pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh secret – pasien dengan abses paru – pasien dengan pneumonia – pasien pre dan post operatif – pasien neurology dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk Kontra Indikasi Drainase Postural a. tension pneumothoraks b. hemoptisis c. gangguan system kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infarkniokard, aritmia d. edema paru e. efusi pleura f. tekanan tinggi intracranial Persiapan Pasien Untuk Drainase Dostural a. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pnggang b. Terangkan cara pelaksanaan kepada klien secara ringkas tetapi lengkap 9 c. Periksa nadi dan tekanan darah d. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan secret. Cara Melakukan Drainase Postural a. Dilakukan sebelum makan untuk mencegah mual muntah dan menjelang tidur malam untuk meningkatkan kenyamanan tidur. b. Dapat dilakukan dua kali sehari, bila dilakukan pada beberapa posisi tidak lebih dari 40 -60 menit, tiap satu posisi 3-10 menit c. Posisi drainase postural dilihat pada gambar Evaluasi Setelah Dilakukan Drainase Postural a. Auskultasi : suara pernapasan meningkat dan sama kiri dan kanan b. Inspeksi : dada kanan dan kiri bergerak bersama-sama c. Batuk produktif (secret kental/encer) d. Perasaan klien mengenai darinase postural (sakit, lelah, lebih nyaman) e. Efek drainase postural terhadap tanda vital (Tekanan darah, nadi, respirasi, temperature) f. Rontgen thorax Fisiologi Organ Terkait Lobus Kanan Atas : 1. segmen apical 2. segmen posterior 3. segmen anterior Lobus Kanan Tengah : 1. segmen lateral 10 2. segmen medial Lobus Kanan Bawah : 1. segmen superior 2. segmen basal anterior 3. segmen basal lateral 4. segmen basal posterior 5. segmen basal medial Drainase postural dapat dihentikan, bila a. Suara pernapasan normal atau tidak terdengar ronchi b. Klien mampu bernapas secara efektif c. Hasil roentgen tidak terdapat penumpukan sekret Posisi untuk drainase postural Bronkus Apikal Lobus Anterior Kanan dan Kiri Atas. Minta klien duduk di kursi, bersandar pada bantal Bronkuas Apikal Lobus Posterior Kanan danKiri Atas Minta klien duduk di kursi, menyandar ke depan pada bantal atau meja Bronkus Lobus Anterior Kanan dan Kirir Atas Minta klien berbaring datar dengan bantal kecil di bawah lutut Bronkus Lobus Lingual Kiri Atas Minta klien berbaring miring ke kanan dengan lengan di atas kepala pada posisi Trendelenburg, dengan kaki tempat tidur di tinggikan 30 cm (12 inci). Letakan bantal di belakang punggung, dan gulingkan klien seperempat putaran ke atas bantal Bronkus Kanan Tengah Minta klien berbaring miring ke kiri dan tinggikan kaki tempat tidur 30 cm (12 inci). 11 Letakan bantal di belakang punggung dan gulingkan klien seperempat putaran ke atas bantal Bronkus Lobus Anterior Kanan dan Kiri Bawah Minta klien berbaring terlentang dengan posisi trendelenburg, kaki tempat tidur di tinggikan 45 sampai 50 cm (18 sampai 20 inci). Biarkan lutut menekuk di atas bantal Bronkus Lobus Lateral Kanan Bawah Minta klien berbaring miring ke kiri pada posisi trendelenburg dengan kaki tempat tidur di tinggikan 45 sampai 50 cm (18 samapi 20 inci) Bronkus Lobus Lateral Kiri Bawah Minta klien berbaring ke kanan pada posisi trendelenburg denan kaki di tinggikan 25 sampai 50 cm (18 sampai 20 inci). Bronkus Lobus Superior Kanan dan Kiri Bawah Minta klien berbaring tengkurap dengan bantal di bawah lambung Bronkus Basalis Posterior Kanan dan Kiri Minta klien berbaring terungkup dalam posisi trendelenburg dengan kaki tempat tidur di tinggikan 45 sampai 50 (18 sampai 20 inci) Langkah – langkah Rasional 1. Cuci tangan 2. Pilih area yang tersumbat yang akan di drainase berdasarkan pengkajian semua bidang paru, data klinis , dan gambaran foto dada. 3. Baringkan klien dalam posisi untuk mendrainase area yang tersumbat. (Area pertama yang dipilih dapat bervariasi dari satu klien ke satu klien yang lain). Bantu klien memilih posisisesuai kebutuhan. Ajarkan klien memposisikan postur dan lengan dan posisi kaki yang tepat. Letakan bantal untuk nenyangga dan kenyamanan. 4. Minta klien mempertahankan posisi selama 10 sampai 15 menit. 5. Selama 10 samapai 15 menit drainase pada posisi ini, lakukan perkusi dada, vibrasi, dan atau gerakan iga di atas area yang didrainase. 6. Setelah drainase pada postural pertama, minta klien duduk dan batuk. Tampung sekresi yang dikeluakan dalam wadah yang bersih. Bila klien tidak dapat batuk, harus dilakukan penghisapan. 12 7. Minta klien istirahat sebentar bila perlu. 8. Minta klien minum menghisap / minum air. 9. Ulangi langkah 3 hingga 8 sampai semua area tersumbat yang dipilih telah terdrainase. Setiap tindakan harus tidak lebih dari 30 sampai 60 menit. 10. Ulangi pengkajian dada pada semua paru. 11. Cuci tangan. Mengurangi transmisi mikro organisme. Untuk evektifitas, tindakan harus dibuat individual untuk mengatasi are spesifik dari peru yang tersumbat. Posisi khusus dipilih untuk mendrainase tiap area yang tersumbat. Pada orang dewasa, pengaliran tiap area memerlukan waktu. Pada anak -anak, cukup 3 sampai 5 menit. Memberikan dorongan mekanik yang bertujuan memobilisai sekret jalan napas. Setiap sekret yang dimobilisasi ke dalam jalan napas pusat, harus di keluarkan melalui batuk atau penghisapan sebelum klien di baringkan pada posisi drainase selanjutnya. Batuk paling efektif bila klien duduk dan bersandar ke depan. Periode istirahat sebentar di antara postur dapat mencegah kelelahan dan membantu klien mentoleransi terapi lebih baik. Menjaga mulut tetap basah sehingga membantu dalam ekpektorasi sekret. Drainase postural digunakan hanya untuk mengalirkan area yang tersumbat dan berdasarkan pengkajian individual. Memungkinkan anda mengkaji kebutuhan drainase selanjutnya atau mengganti program drainase. Mengurangi transmisi mikro organisme. Persiapan alat Baki berisi : 1. Handuk 2. Bantal (2 – 3 buah) 3. Segelas air 4. Tissue 5. Sputum pot , berisi cairan desinfektan. 6. Buku catatan 13 Persiapan klien 1. Informasikan klien mengenai : tujuan pemeriksaan, waktu dan prosedur. 2. Pasang sampiran / jaga privacy pasien 3. Atur posisi yang nyaman. Persiapan perawat 1. Cuci tangan 2. Perhatikan universal precaution. Prosedur • Lakukan auskultasi bunyi napas klien. • Instruksikan klienuntuk mengatakan bila mengalami mual, nyeri dada, dispneu. • Berikan medikasi yang dapat membantu mengencerkan sekret. • Kendurkam pakaian klien Postural drainase • Pilih area yang tersumbat yang akan didrainase. • Baringkan klien dalam posisi untuk mendrainase area yang tersumbat. Letakan bantal sebagai penyangga. • Minta klien untuk mempertahankan posisi selama 10 samapai 15 menit. • Selama dalam posisi ini, lakukan perkusi dan vibrasi dada di atas area yang di drainase. • Setelah drainase pada posisi pertama, minta klien duduk dan batuk efektif. Tampung sekret dalam sputum pot. • Istirahatkan pasien, minta klien minum air sedikit. • Ulangi untuk area tersumbat lainnya. Tindakan tidak lebih dari 30-60 menit. Penyuluhan Klien Klien dan keluarga harus di ajarkan cara posisi postur yang tepat di rumah. Beberapa postur perlu dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan individual. 14 Sebagai contoh, posisi miring Trendelenburg untuk mengalirkan lobus bawah lateral harus dilakukan dengan klien berbaring miring datar atau posisi miring semi Fowler bila ia bernapas sangat pendek (dispneu). Pertimbangan Pediantri Adalah tidak realistik untuk mengharapkan anak bekerja sama penuh dalam memilih semua posisi yang digunakan untuk drainase postural. Perawat harus menentukan empat sampai enam posisi sebagai prioritas. Lebih dari enam sering melampui keterbatasan toleransi anak. Pertimbangan Geriatri Klien pada pengobatan anti hipertansi tidak mampu mentolerir perubahan postur yang diperlukan. Perawat harus memodifikasi prosedur untuk memenuhi toleransi klien dan tetap membersihkan jalan napas. Prosedur Pelaksanaan Tahap PraInteraksi 1. Mengecek program terapi 2.Mencuci tangan 3.Menyiapkan alatB. Tahap Orientasi 1.Memberikan salam dan sapa nama pasien 2.Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 3.Menanyakan persetujuan/kesiapan pasienC. Tahap Kerja 1.Menjaga privacy pasien 15 2.Mengatur posisi sesuai daerah gangguan paru 3.Memasang perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat mulut bila tidur miring) 4 Melakukan clapping dengan cara tangan perawatmenepuk punggung pasien secara bergantian 5.Menganjurkan pasien inspirasi dalam, tahan sebentar,kedua tangan perawat di punggung pasien 6.Meminta pasien untuk melakukan ekspirasi, pada saat yang bersamaan tangan perawat melakukan vibrasi 7.Meminta pasien menarik nafas, menahan nafas, dan membatukkan dengan kuat 8.Menampung lender dalam sputum pot 9.Melakukan auskultasi paru 10.Menunjukkan sikap hati-hati dan memperhatikan respon pasien Tahap Terminasi 1.Melakukan evaluasi tindakan 2.Berpamitan dengan klien 3.Membereskan alat 4.Mencuci tangan 5.Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan 2.2.4 Latihan Pernapasan/Napas Dalam Latihan pernapasan dalam adalah bentuk latihan dan praktik teratur yang dirancang dan dijalankan untuk mencapai ventilasi yang terkontrol dan efisien serta mengurangi kerja pernapasan. Latihan pernapasan ini juga diindikasikan pada klien dipsnea dan klien yang masih dalam tahap penyembuhan setelah pembedahan thoraks. 16 Latihan pernapasan dalam terdiri dari: a. Pernapasan diafragma atau pernapasan abdominal yaitu menggunakan diafragma dan dapat menguatkan diafragma selama pernapasan sehingga memungkinkan napas dalam secara penuh dengan sedikit usaha. b. Pernapasan bibir dirapatkan/ pursed lip breathing yaitu pernapasan dengan bibir dirapatkan untuk memperpanjang ekshalasi dan meningkatkan tekanan jalan napas selama ekspirasi dengan demikian mengurangi jumlah udara yang terjebak dan jumlah tahanan jalan napas. Tujuan Latihan Pernapasan • Meningkatkan inflasi alveolar yang maksimal • Meningkatkan relaksasi otot pernapasan • Menghilangkan atau menghindari pola aktivitas otot-otot pernapasan yang berguna dan tidak terkoordinasi • Menurunkan frekuensi pernapasan • Mengurangi kerja pernapasan • Menghilangkan ansietas Prosedur Pelaksanaan • Ikuti protocol standar umum dalam intervensi keperawatan seperti perkenalkan diri perawat, pastikan identitas klien, jelaskan prosedur dan alas an tindakan, cuci tangan. • Atur posisi yang nyaman bagi klien dengan posisi setengah duduk di tempat tidur atau di kursi atau dengan lying postion (posisi berbaring) di tempat tidur dengan satu bantal. • Fleksikan lutut klien untuk merilekskan otot abdomen • Tempatkan satu atau dua tangan pada abdomen, tepat di bawah tulang iga • Tarik napas dalam melalui hidung, juga mulut tetap tertutup. Hitung sampai 3 17 selama inspirasi • Konsentrasi dan rasakan gerakan naiknya abdomen sejauh mungkin, tetap dalam kondisi relaks cegah lengkung pada punggung. Jika ada kesulitan menaikkan abdomen, ambil napas dengan cepat, lalu napas kuat lewat hidung. • Hembuskan udara lewat bibir, seperti meniup dan ekspirasi secara perlahan dan kuat sehingga terbentuk suara hembusan tanpa mengembungkan pipi. • Konsentrasi dan rasakan turunnya abdomen dan kontraksi otot abdomen ketika ekspirasi. Hitung sampai 7 selama ekspirasi. • Gunakan latihan ini setiap kali merasakan napas pendek dan tingkatkan secara bertahap selama 5-10 menit, 4 kali sehari. Latihan in dapat pula dilakukan pada posisi duduk tegap, berdiri, dan berjalan. 2.2.5 Batuk Efektif Batuk efektif merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal. Tujuan Batuk efektif dan napas dalam merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi , yang bertujuan : a. Merangsang terbukanya system kolateral. b. Meningkatkan distribusi ventilasi. c. Meningkatkan volume parud) Memfasilitasi pembersihan saluran napas Manfaat 1. Untuk mengeluarkan sekret yang menyumbat jalan nafas 2. Untuk memperingan keluhan saat terjadi sesak nafas pada penderita jantung. Cara Batuk Efektif 1. Tarik nafas dalam 4-5 kali 2. Pada tarikan selanjutnya nafas ditahan selama 1-2 detik 3. Angkat bahu dan dada dilonggarkan serta batukan dengan kuat 18 4. Lakukan empat kali setiap batuk efektif, frekuensi disesuaikan dengan kebutuhan 5. Perhatikan kondisi penderita Batuk Yang tidak efektif menyebabkan 1. Kolaps saluran nafas 2. Ruptur dinding alveoli 3. Pneumothoraks Indikasi Dilakukan pada pasien seperti : COPD/PPOK, Emphysema, Fibrosis, Asma, chest infection, pasien bedrest atau post operasi. 2.3 Tujuan Fisioterapi Dada 1. Meningkatkan efisiensi pola pernapasan 2. Membersihkan jalan napas 3. Untuk mencegah penumpukan secret, memperbaiki perbaikan dan aliran secret 4. Mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernapasan 5. Klien dapat bernapas dengan bebas dan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup 6. Mengeluarkan secret dari saluran pernapasan 2.4 Indikasi dan Kontraindikasi Fisioterapi Dada 1. Indikasi • Terdapat penumpukan secret pada saluran napas yang dibuktikan dengan pengkajian fisik, X-Ray, dan data klinis. • Sulit mnegluarkan atau membatukkn sekresi yang terdapat pada saluran pernapasan. 2. Kontraindikasi • Hemoptisis • Penyakit jantung • Serangan asam akut • Deformitas struktur dinding dada dan tulang belakang • Nyeri meningkat, kepala pening, kelelahan, Kepala pening dan kelemahan 19 BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini walaupun caranya tidak kelihatan istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan secret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu.

WISATA ALAM BUMI KAL-TENG

Standar

KAL NATURE-teng
Who said that Kalimantan open a beautiful place? Central Kalimantan especially,,,
In kalimanyan Tengan we have a lot of interesting places to visit by tourists, tikdak’ll be sorry when visiting central Kalimantan.
In Borneo, we had a lot of interesting things to dah places we recommend, good customs, panoramic, forest and everything in it that will only be found in central Kalimantan. Among them:
Nature Bukit Batu
Katingan, Central Kalimantan, natural attractions in Bukit Batu terlelak Katingan kasongan border and the capital Palangkaraya already widely known. pediri hill is where meditation is also a former governor of Central Kalimantan, Central Kalimantan, Tjilik Riwut. Bukit Batu presents its own belief system for the local community and have a legend to confirm the existence of Bukit Batu, who at the same time, the legend
LAKE TAHAI
This lake is a natural lake formed due to changes in river flow Kahayan. Tahai lake is about 30 KM from the city center.
The lake has a unique Tahai that may not be owned by other lakes (especially outside the island of Borneo), the red-colored water is caused by tree roots in peatlands.
Balanga MUSEUM

The museum is located at Km 2.5 Jalan Tjilik Riwut with an area of less than 5 (five) Ha. Museum is acting as an agency pot preservation, documentation, and presentation of a variety of Dayak cultural heritage collections and everything related to the history of the Dayak tribe lives, as ethnografika, heritage items that many Dayak megic power. In this museum are also a variety of traditional tools used by the Dayak tribes in antiquity as-Mihing-(a traditional fishing), and others.

STONE BANAMA

Banama stone is in addition to beautiful scenery can also be categorized as containing relegius tour, due to the location of this tourist area there is Pura Agung Sali Paseban / Satya Dharma. Besides the legend of the stone itself banama viewed from the side much like a stranded ship.
HOUSE BETAN
Betang homes (long houses, big house) is home to the indigenous Dayak. As the name implies is a large house that can accommodate dozens of people or families who have family ties. Betang house is rarely encountered, but in the city of Palangkaraya betang there is one house that had been built as a pilot in Jl. D.I Penjaitan Palangkaraya city. At certain moments, the house is often used as a location betang gigs / festivals Dayak culture.

OBJECT KUBU BEACH TOUR, BUN base KOBAR
Beach in the village of Kubu Kubu, Kumai District Kotawaringin west (Kobar). Location of the attraction is located about 30 km from the city of Pangkalan Bun. . Kubu is a bay beach which stretches for 3 km, with a reddish-colored water. White sand beaches are pristine. From the beach to see the high seas. The beauty of the natural atmosphere Kubu Beach seemed to be a bidder for the citizens of Pangkalan Bun and surrounding this holiday season to just forget the daily work routine.

STONE Suli
Puruk Batu Suli is the name of one of the tourist attraction that is not alien to the people in the district Gunung Mas. Situated right in the village is often called the Manange tumbles Upon the Rock, District Tewah, Gunung Mas. This unique place is located on the edge Kahajan and has a very beautiful panorama. One appeal of Batu Suli is Puruk Antang Stone, a stone shaped like Antang (eagle), which was flapping its wings. When diliat Antang Stone is composed of two and in between two rocks have a small gap.

END PANDARAN
Kotawaringin East is one of the districts in the province of Central Kalimantan. The capital of this district is located in Sampit. The tip Pandaran beach is a representation of the beauty of the scenery was stunning. On this beach, visitors can see the white sand is so vast, rows of palm trees that when viewed from a distance as if the fence off the beach, the waves are big enough, and the wealth of marine life typical of this coast. Specifically for marine biota, in the end Pandaran Coast there are many jellyfish, stingrays, various types of small fish that live in coral reefs, and others.

Standar

Cake love (darable)

 

Author : Song Seon Na/yephina

Cast : choi min ho

Song  Seon Woo

kang  tae Na

Genre : romance

Sebenarnya fanfic ini seperti surat cinta, so take it enjoy

 

 

 

 

 

Saat pertama kita bertemu di toko  kue itu, aku kira kau adalah pembeli seperti aku juga, dan saat itu juga aku merasa jantungku berdegup kencang, aku merasa aku jatuh cinta padamu, dan semenjak saat itu aku sering mengunjungi toko kue itu agar bisa bertemu denganmu, dan semenjak saat itu kita menjadi akrap. Tapi sayang aku tidak berani mengungkapkan perasaanku padamu, dan hal yang membuatku terkejut kau bukalah pembeli tapi kau anak dari pemilik toko itu, kau mengajariku membuat berbagai macam kue, karena aku bilang bahwa aku adalah namja yang suka sekali makan kue. Selama 5 bulan berlalu tanpa terasa, aku masih belum bisa juga  menyatakan perasaanku padamu, aku terlalu takut akan kehilanganmu.

Sudah selama setahun aku bersamamu, dan hari ini aku berhasil menjadi seperti apa yang kau harapkan.”, aku berjanji padamu”. Terlalu sadis yang kau lakukan padaku, kau membunuhku secara pelan-pelan dengan apa yang kau lakukan, harusnya kau katakan padaku tentang penyakitmu yang akan merenggutmu pergi dari sisiku. Mianhe, atas semua kebodohanku, seharusnya aku tidak menyalahkanmua atas semua ini, aku seorang namja seharusnya aku yang terlebih dahulu mengungkapkan padamu tentang perasaanku padamu. Mianhe karna aku terlalu bodoh sebagai namja, tapi aku berjanji padamu bahwa aku akan  membuat kue dengan cinta seperti yang kau pinta saad mengajariku waktu membuat kue. Sekarang aku sudah berani menunjukkan perasaanku padamu walau kau tak di sampingku lagi, toko kue yang ku bangun ini khusu ku persembahkan untuk yeonja yang ku sayangi. Dan aku harap suatu hari nanti kau bisa mencicipi kue yang ku buat ini, dan bisa kah ? aku memanggilmu ‘chagiya’?

Seandainya waktu bisa terulang kembali aku ingin sekali menyatakan padamu betapa besar rasa cintaku padamu. Aku  hanya bisa menyesali semua ini, tapi sekarang kau tau ‘chagi’ aku berjanji  tidak akan melakuakn kesalah yang sama lagi, dua minggu lalu aku bertemu dengan seorang yeonja yang sifatnya mirip denganmu, dia menyukai kue juga, dan dia bilang bahwa kue resep kau dan aku sangat enak, karna di dalamnya ada rasa cinta yang dalam dan aku selalu membanggakan hal itu pada semua pengunjung, tapi iya juga bilang bahwa rasa kue itu, tidak bisa ia rasakan dengan lekat rasa kecintaan itu.

Sejak saat itu aku menjadi dekat dengannya, dan dia juga mengajariku cara membuat kue yang penuh dengan cinta, aku rasa dia adalah kau  ‘chagi’. Aku tidak akan melepaskannya lagi, aku janji. Dan sekarang aku bisa mabawanya ke gereja ini seperti keinginan kita dulu, menyematkan cicin di jari manisnya dan mencium keningnya. Maafkan aku, sekarang aku bertekad untuk melupakanmu dan memulai cintaku yang baru dengan gadisku, yang sekarang telah menjadi istriku dia adalah Tae Na, aku rasa aku mencintainya lebih dari rasa cintaku padamu, dan sekarang kenangan ini aku tutup dan ku simpan di dalam hatiku dan ku tutup rapat, selamanya.

 

 

—The and—

Astrid Feat Tim – Sarang Hamnida 사랑함니다

Standar

Astrid Feat Tim – Sarang Hamnida 사랑함니다

Mengapa engkau tega mencuri hatikuTanpa seijin aku lebih dulu Memaksaku membuatku lemah tak ebrdaya Keu dael saranghamnida Nappayo cham keu dae ran saram Heo rak do opshi wae nae mam ga jyeo yo Keu dae ttaemune nan him gyeob gye sal go man inneun de Keu daen mo reu chanayo Aku bahkan tak seindah Ku tak seindah kedipan matamu Tapi dapatkah kau berikan senyum untukku Walau itu bukan cinta, tapi aku memohon On jen gan han bon jeum eun to ra pwa ju gyet jyo Oooh aku menunggumu sampai akhir Oneul do cha ma mo tan ka seum sok han ma di Hanya satu kata, keu dael sarang hamnida Kemarin aku tertidur Keu dael keu ri da cham deu ryot na pwa yo Ketika aku terbangun air matapun jatuh Shi rin keu dae irum gwa (lalu aku memohon) Hot win param pun in nak so man On jen gan han bon jeum eun to ra pwa ju gyet jyo Oooh aku menunggumu sampai akhir Oneul do cha ma mo tan ka seum sok han ma di Hanya satu kata, keu dael sarang hamnida Kali aku melihatmu lagi Keu dae twi mo suem eul pa ra po myeo Heu reu neun nun mul chorom so ri om neun keu mal (bagai air mata) keu dael sarang hamnida