FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OKSIGENESI

Standar

FAKTOR_FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OGSIGENASI

– Saraf otonomik
– Hormone dan obat
– Alergi pada saluran napas
– Perkembangan
– Lingkungan
– Perilaku
1. Faktor Fisiologis
Setiap kondisi yang mempengaruhi kardiopulmunar secara langsung akan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Proses fisiologi selain yang mempengaruhi proses oksigenasi pada klien termasuk perubahan yang mempengaruhi kapasitas darah untuk membawa oksigen, seperti anemia, peningkatan kebutuhan metabolisme, seperti kehamilan dan infeksi.

2. Faktor Perkembangan
Tahap perkembangan klien dan proses penuaan yang normal mempengaruhi oksigenasi jaringan. Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.
1) Bayi premature : yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan
2) Bayi dan toodler : adanya resiko infeksi saluran pernafasan akut
3) Anak usia sekolah dan remaja : resiko saluran pernafasan dan merokok
4) Dewasa muda dan pertengahan : diet yang tidak sehat, kurang aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru
5) Dewasa tua : adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosclerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun

2
3. Faktor Perilaku

Perilaku atau gaya hidup baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kemampuan tubuh dalam memenuhi kebutuhan oksigen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi pernafasan meliputi: nutrisi, latihan fisik, merokok, penyalahgunaan substansi.

1) Nutrisi : misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang terlalu tinggi lemak menimbulkan arteriosclerosis
2) Exercise (olahraga berlebih) :Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen
3) Merokok : nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan coroner
4) Substance abuse (alkohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alkohol menyebabkan depesi pusat pernafasan

4. Faktor Lingkungan

1. Tempat kerja (polusi)

2. Suhu lingkungan

3. Ketinggian tempat dari permukaan laut

5. Faktor Psikologi
Stres adalah kondisi di mana seseorang mengalami ketidakenakan oleh karena harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak dikehendaki (stresor). Stres akut biasanya terjadi oleh karena pengaruh stresor yang sangat berat, datang tiba-tiba, tidak terduga, tidak dapat mengelak, serta menimbulkan kebingungan untuk mengambil tindakan. Stress akut tidak hanya berdampak pada psikologis nya saja tetapi juga pada biologisnya , yaitu mempengaruhi sistem fisiologis tubuh, khususnya organ tubuh bagian dalam yang tidak dipengaruhi oleh kehendak kita. Jadi, stres tersebut berpengaruh terhadap organ yang disyarafi oleh syaraf otonom.
Hipotalamus membentuk rantai fungsional dengan kelenjar pituitari (hipofise) yang ada di otak bagian bawah. Bila terjadi stres, khususnya stres yang akut, dengan cepat rantai tersebut akan bereaksi dengan tujuan untuk mempertahankan diri dan mengadaptasi dengan cara dikeluarkannya adrenalin dari kelenjar adrenal tersebut. Nah, adrenalin inilah yang akan mempengaruhi alat dalam tubuh yang tidak dipengaruhi oleh kehendak kita. Terjadinya kegagalan dalam proses suplai oksigen ke organ-organ tersebut karena organ-organ tubuh dalam bekerja selalu membutuhkan oksigen secara teratur dalam jumlah yang cukup, dan oksigen tersebut dibawa oleh darah yang mengalir ke organ-organ tersebut.
3

Ansietas atau kecemasan yang terlalu tinggi juga akan meningkatkan laju metabolisme tubuh dan kebutuhan akan oksigen. Tubuh berespons terhadap ansietas dan stress lain dengan meningkatkan frekuensi kedalaman pernafasan. Kebanyakan individu dapat beradaptasi, tetapi beberapa individu yang mengalami penyakit kronik seperti infark miokard tidak dapat mentoleransi kebutuhan oksigen akibat rasa cemas.
JENIS PERNAPASAN
– Pernapasan eksternal
– Pernapasan internal

PENGUKURAN FUNGSI PARU
Kemampuan faal paru dapat dinilai dari volume dan kapasitas paru. Volume paru merupakan volume udara yang mengisi ruangan udara dalam paru, terdiri atas volume pasang surut ( tidal volume – TV ), volume cadangan hisap ( inspiratory reserve volume – IRV ), sedangkan kapasitas paru merupakan jumlah dua atau lebih volume paru yang terdiri atas kapasitas hisap ( inspiratori capacity – IC ), kapasitas cadangan fungsional ( functional reserve capacity – FRC ), kapasitas vital ( vital capacity – KV ), dan jumblah keseluruhan volume udara yang ada dalam paru ( total lung capacity – TLC ).
– Volume paru
 Volume pasang surut merupakan jumlah udara keluar masuk paru pada saat terjadi pernapasan biasa. Pada orang sehat, besarnya volume pasang surut rata-rata adalah 500 cc.
 Volume cadang hisap merupakan jumlah udara yang masih bias dihirup secara maksimal setelah menghirup udara pada pernapasan biasa. Pada orang dewasa, besarnya volume cadangan hisap adalah 3000 cc.
 Volume cadangan hembus merupakan jumlah udara yang masih bisa dihembuskan secara maksimal setelah menghembuskan udara pada pernapasan biasa.

– Kapasitas paru
Pengukuran Fungsi Paru (Spirometer)
Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosolgolongan adrenergik. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma (Muttaqin, 2008).

MASALAH KEBUTUHAN OKSIGEN
– Hipoksia
– Perubahan pola pernapasan
4
– Obstruksi jalan napas
– Pertukaran gas
– Tindakan Untuk Mengatasi Masalah Kebutuhan Oksigen

1) Atur posisi yang nyaman bagi pasien dengan posisi setengah duduk di tempat tidur atau dikursi atau dengan lying position (posisi berbaring) di tempat tidur dengan satu bantal.
2) Fleksikan lutut pasien untuk merelakskan otot abdomen
3) Tempatkan satu atau dua tangan pada abdomen, tepat dibawah tulang iga.
4) Tarik nafas dalam melalui hidung, jaga mulut tetap tertutup, hitung sampai 3 selama inspirasi.
5) Konsentrasi dan rasakan gerakan naiknya abdomen sejauh mungkin, tetap dalam kondisi relaks dan cegah lengkung pada punggung. Jika ada kesulitan menaikkan abdomen, ambil nafas secara cepat, nafas kuat lewat hidung.
6) Kemudian hembuskan lewat bibir seperti meniup dan ekspirasi secara perlahan dan kuat, sehingga terbentuk suara hembusan tanpa menggembungkan dari pipi.
7) Konsentrasi dan rasakan turunnya abdomen serta kontraksi dari otot abdomen ketika ekspirasi. Hitung sampai 7 selama ekspirasi.
8) Gunakan latihan ini setiap kali merasakan nafas pendek dan tingkatkan secara bertahap selama 5-10 menit, 4 kali dalam sehari. Latihan teratur akan membantu pernafasan tanpa usaha. Latihan ini dapat dilakukan dalam posisi duduk tegap, berdiri dan berjalan.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s