RESUME AGAMA KAHARINGAN

Standar

RESUME
AGAMA KAHARINGAN

Oleh : Yephina Ayu
Tingkat : 1A, S-1 Keperawatan

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S-1 KEPERAWATAN
2011

BAB I
KONSEP AGAMA HINDU

A. Wujud Tuhan
Dalam sistem pemujaan agama Hindu para pemeluknya membuat bangunan suci, arca (patung-patung), pratima, pralinga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain. Hal ini menimbulkan prasangka dan tuduhan yang bertubi-tubi dengan mengatakan umat Hindu menyembah berhala. Penjelasan lebih lanjut tentang pelukisan Tuhan dalam bentuk patung adalah suatu cetusan rasa cinta (bhakti). Dalam setiap daerah penyebutan nama Tuhan juga berbeda-beda, misalnya Hindu Bali menyebut Tuhan dengan SANG HIANG WIDIU WASE, sedangkan Hindu Kaharingan menyebut Tuhan dengan sebutan RANYING HATALA LANGIT. Pada Kalimanta juga seperti kita ketahu terbagi atas beberapa kabupaten, pada setiap kabupaten penganut agama Hindu Kaharingan juga mempunyai sebutan tersendiri untuk Tuhannya, misalnya Barito(Jost Tuha Hatala), Murung Raya(Muha Tara Labata Bilang Sangomang), Kota Waringin Barat(Sangiang Bata), lain halnya lagi dengan Kalimantan Barat yang menyebut Tuhan dengan NINING BATARA.
Pada masa dahulu agama Kaharingan disebut sebagai agama helu(lama). Dalam kitab Weda “ADITIAN RAHMAN” yang artinya Tuhan itu satu, jadi walaupun di berbagai daerah penyebutannya berbeda, tetapi pada intinya Tuhan tetaplah satu.
Dewi Saraswati dianggap oleh penganut agama hindu sebagai perwujudan dari malaikat Tuhan. Paseban adalah salah satu bentuk perwujudan Tuhan bagi penganut agama hindu, berikut beberapa bentuk perwujudan Tuhan.
a. Brahman/ Tuhan Yang Maha Esa
Tuhan dalam agama Hindu sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sanskerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Tuhan Yang Maha Esa ini disebut dalam beberapa nama, antara lain:
* Brahman: asal muasal dari alam semestea dan segala isinya
* Purushottama atau Maha Purusha
* Iswara (dalam Weda)
* Parama Ciwa (dalam Whraspati tatwa)
* Sanghyang Widi Wasa (dalam lontar Purwabhumi Kemulan)
* Dhata: yang memegang atau menampilkan segala sesuatu
* Abjayoni: yang lahir dari bunga teratai
* Druhina: yang membunuh raksasa
* Viranci: yang menciptakan
* Kamalasana: yang duduk di atas bunga teratai
* Srsta: yang menciptakan
* Prajapati: raja dari semua makhluk/masyarakat
* Vedha: ia yang menciptakan
* Vidhata: yang menjadikan segala sesuatu
* Visvasrt: ia yang menciptakan dunia
* Vidhi: yang menciptakan atau yang menentukan atau yang mengadili.
Tuhan Yang Maha Esa ini apapun namaNya digambarkan sebagai:
• Beliau yang merupakan asal mula. Pencipta dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta
• Wujud kesadaran agung yang merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada
• Raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan makanan
• Sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hidup
• Maha suci tidak ternoda
• Mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan, maha cemerlang, tiada terucapkan, tiada duanya.
• Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya (swayambhu).

kitab suci Veda dan temasuk kitab-kitab Vedanta (Upanisad) adalah sumber yang paling diakui otoritasnya dalam menjelaskan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Brahman memiliki 3 aspek:
1. Sat: sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau
Dengan kekuatanNya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila saatnya pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda alam semesta ini yang tidak bisa bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada barang atau zat lain di alam semesta ini selain Tuhan.

2. Cit: sebagai Maha Tahu
Beliaulah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama, tetapi sumber segala pengetahuan. Dengan pengetahuan maka dunia ini menjadi berkembang dan berevolusi, dari bentuk yang sederhana bergerak menuju bentuk yang sempurna. Dari avidya (absence of knowledge- kekurangtahuan) menuju vidya atau maha tahu.
3. Ananda
Ananda adalah kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Maya yang diciptakan Brahman menimbulkan illusi, namun tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kebahagiaan Brahman. Pada hakikatnya semua kegembiraan, kesukaran, dan kesenangan yang ada, yang ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda ini bersumber pula pada Ananda ini, bedanya hanya dalam tingkatan. Kebahagiaan yang paling rendah ialah berwujud kenikmatan instingtif yang dimiliki oleh binatang pada waktu menyantap makanan dan kegiatan sex. Tingkatan yang lebih tinggi ialah kesenangan yang bersifat sementara yang kemudian disusul duka. Tingkatan yang tertinggi adalah suka tan pawali duhka, kebahagian abadi, bebas dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi.
Brahman memiliki prabawa sebagai asal mula dari segala yang ada. Brahman tidak terbatas oleh waktu tempat dan keadaan. Waktu dan tempat adalah kekuatan Maya (istilah sansekerta untuk menamakan sesuatu yang bersifat illusi, yakni keadaan yang selalu berubah baik nama maupun bentuk bergantung dari waktu, tempat dan keadaan) Brahman. Jiwa atau atma yang menghidupi alam ini dari makhluk yang terendah sampai manusia yang tersuci adalah unsur Brahman yang lebih tinggi. Adapun bnda-benda (materi) di alam semesta ini adalah unsur Brahman yang lebih rendah. Walaupun alam semesta merupakan ciptaan namun letaknya bukan di luar Brahman melainkan di dalam tubuh Brahman.

b. Dewata atau Dewa
Prasangka banyak orang yang menganggap konsep teologis Hindu adalah politeistik berangkat dari pemahaman yang salah tentang Dewa. Dewa adalah sesuatu yang memancar dari Tuhan Yang Maha Esa. Beraneka Dewa itu adalah untuk memudahkan membayangkanNya. Dewa-dewa atau dewata digambarkan dalam berbagai wujud, yang menampakkan diri sebagai yang personal, yang berpribadi dan juga yang tidak berpribadi. Yang Berpribadi dapat kita amati keterangan tentang dewa Indra, Bayu, Surya, Garutman, Ansa yang terbang biasa di angkasa, dan sebagainya. Sedang Yang Tidak Berpribadi, antara lain sebagai Om (Omkara/Pranawa), Sat, Tat, dan lain-lain. Dalam kitab suci Rg weda seperti halnya Atharwa weda disebutkan jumlah dewa-dewa itu sebanyak 33 dewa. Bila kita membaca mantram-mantram lainnya dari kitab suci Rg weda ternyata jumlah Dewa-dewa sebanyak 3339.
Banyak masyarakat yang menganggap bahwa acara adat yang dilakukan oleh penganut agama Hindu kaharingan sebagai penyembahan berhala, tetapi sebenarnya hal tersebut adalah salah. Acara adat yang dilakukan tersebut sebenarnya perwujudan rasa hormat kepada leluhur yang telah mennggal, misalnya acara adat Tiwah yang dilakukan untuk mengantarkan roh-roh leluhur kepada Yang Kuasa.
Dalam agama hindu kaharingan ada tiga konsep bahasa yang digunakan, yaitu bahasa sangen.bahasa Sangiang, bahasa Bunu. Bahasa sangen adalah bahasa yang hanya bias digunakan oleh para Basir untuk berkomunikasi dengan Dewa. Bahasa sangiang adalah bahasa yang digunakan dalam kitab suci dan kandayu atau yang disebut juga bahasa Hatalla. Bahasa Bunu adalah bahasa yang digunakan oleh manusia.

BAB II
KELUARGA YANG HARMONIS DAN BAHAGIA MENURUT AGAMA HINDU
Keluarga bahagia (sukhinah) adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi, saling setia, serta mampu mengamalkan, menghayati, dan memperdalam nilai-nilai sraddha dan bhakti.
Seorang laki-laki yang mau melamar seorang gadis harus memberikan uang pangumbang yang senilai ± Rp. 50.000, jika uang pangumbang tidak dikembalikan selama 2 minggu maka uang tersebut sudah diterima. Setelah 2 minggu lebuh, maka dilakukan acara maja misek (melamar), dalam acara maka misek tidak menutup kemungkinan untuk ditolak, setelah acara maja misek maka dilakukan nanggar janji dengan melihat hari baik dari bulan yang ada di langit.
Palaku adalah selembar kebun karet, rotan, dal lainnya yang akan diserahkan kepada si gadis yang dinikahkan. Jika pihak laki-laki tidak mempunyai kebun maka dapat diganti dengan emas. Garantung kuluk pelek adalah salah satu persyaratan dalam menikah yang dimaksutkan sebagai pedoman dalam menjalankan rumah tangga yang dapat berupa beberapa kati garantung. Sinjang entang lapik luang yang berarti senagai ganti kain yang digunakan orangtua perempuan tersebut saat masih bayi.
Tujuan orang membentuk rumah tangga adalah untuk:
1. Dharma sampati, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña, sebab di dalam grhastalah aktivitas Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.
2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna).
3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma. Meskipun dalam kehidupan berumah tangga tidak ada larangan untuk berhubungan kelamin tapi orang hendaknya tetap menjaga menghamburkan air mani yang tidak berguna agar tetap memiliki kekuatan bathin. Hubungan kelamin hendaknya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh anak-anak yang bermoral dan berwatak baik dan dilakukan pada hari-hari tertentu saja. Rtu kalabhigamisyat, svadaraniratan sada, parvarjam vrajeccainam tad vrato rati kamyaya (Manavadharmasastra, III.45) – Hendaknya suami menggauli isrtinya dalam waktu-waktu tertentu dan selalu puas dengan istrinya seorang, ia juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan kelamin padahari apa saja kecuali pravani (Pudja dan Sudharta, 1996: 144).

A. Ciri-Ciri Keluarga Harmonis
sebuah keluarga dapat dikatakan harmonis jika, masing-masing anggota keluarga dapat melakukan dharmanya dengan baik.
1. Dharma seorang Suami:
 Melindungi istri dan anak-anaknya.
 Menyerahkan harta dan menugaskan kepada istri sepenuhnya untuk mengurus rumah tangga serta urusan agama bagi keluarga (MDS, IX.11)
 Menjamin hidup dengan memberi nafkah istri bila karena sesuatu urusan penting ia meninggalkan istri dan keluarganya ke luar daerah (MDS, IX.74)
 Memelihara hubungan kesuciannya dengan istri dan saling percaya (setia) sehingga terjalin hubungan yang rukun, harmonis dalam rumah tangga (MDS, IX.101-102).
 Menggauli istrinya dan mengusahakan agar tidak timbul perceraian dan masing-masing tidak melanggar kesucian (MDS, III.45)
 Mengupayakan kesehatan jasmani anak (sarirakrt), membangun jiwa anak (Pranadata), dan memberkan makanan dan minuman (annadata) (Sarasamuccaya 242)
 Patti, yakni: Memberkan perlindungan pada anak dan istrinya, dan Bhastri, yaitu: menjamin kesjahteraan istri dan anak-anaknya (Grha Sutra)
 menyelamatkan keluarga pada saat bahaya, nitya maweh bhinojana; selalu mengusahan makanan yang sehat memberikan ilmu pengetahuan kepada si anak, anyangaskara; menyucikan si anak atau membina mental spiritual si anak, dan sang ametwaken; sebagai penyebab lahirnya si anak (Kakawin Nitisastra VIII.3)
2. Dharma seorang Istri:
 Berusaha untuk menghindari bertindak di luar pengetahuan suami atau orang tuanya (MDS, V.149)
 Pandai membawa diri dan pandai mengatur rumah tangga (MDS, V. 150)
 Setia kepada suami dan hendaknya selalu berusaha tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan untuk hidup suci (MDS, V. 156, 160, 164, MDS, IX.29-30 dan Atharvaveda XIV. 1.42 dan Canakya Nitisatra, IV. 13)
 Selalu mengendalikan diri dalam keadaan suci dan selalu ingat kepada suami dan Tuhan, waspada, tahan uji dan menjaga nama baik keluarga ( Rgveda X.85. 27 dan MDS, V.165).
 Memelihara rumah tangga Istri yang ditinggal tugas oleh suami ke luar daerah bila tidak diberi nafkah ia dapat bekerja untuk menunjang hidupnya asal tidak bertentangan dengan kesopanan (MDS. IX.75)
 Untuk menjadi ibu, wanita telah diciptakan di samping itu ia mempunyai pula kewajiban di rumah, sebagai pengurus rumah tangga dan penyelenggara upacara keagamaan.
3. Dharma seorang Anak
 Hormat kepada ibu dan ayahnya setiap hari, teguh melakukan tapa, menjaga kesucian diri, berpegang teguh kepada dharma (Veda Smrti, 2.233 dan Sarasamuccaya 239 & 250)
 Berkepribadian utama dan membantu meringankan beban keluarga (Canakya Nitisastra, III. 17)
 Menjaga nama baik orang tua
4. Kewajiban Para Grhastha
1. Secara umum kewajiban orang berumah tangga adalah sebagai berikut:
2. Kewajiban pada Hyang Widhi dan Guru Kerohanian
3. Kewjiban kepada orang tua
4. Kewajiban kepada anak
5. Kewajiban pada sanak keluarga
6. Kewajiban pada masyarakat
7. Kewajiban pada lingkungan

B. Fungsi Keluarga
Dalam membangun keluarga bahagia sejahtera meningkatkan ketahanan keluarga merupakan salah satu jawaban yang perlu mendapat prioritas tinggi dengan memperhatikan fungsi-fungsi keluarga yang meliputi fungsi Brahmana (keagamaan), Ksatria (perlindungan), Vaisya (ekonomi), Sudra (kasih sayang) reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, budaya, serta pelestarian lingkungan. Adapun peranan keluarga dalam hal pembinaan anggota keluarga
1) Keagamaan; Keluarga mempunyai fungsi sebagai Brahmana; untuk mendorong anggotanya menjadi unsur bergama dengan penuh iman dan taqwa kepada Tuhan YME dengan menjalankan kewajibannya.
2) Melindungi (Ksatria); Keluarga merupakan wadah untuk melanjutkan kehidupan manusia dari generasi yang satu ke generasi lainnya, mengasuh, merawat dan melindungi agar menjadi manusia yang berkualitas.
3) Ekonomi (Vaisya); Keluarga menjadi sumber pendukung dan pemenuhan kebutuhan anggota-anggotanya untuk dapat mengarahkan kehidupan secara mandiri
4) Cinta Kasih (Sudra); Keluarga merupakan landasan untuk mengikat batin anggota-anggotanya sehingga saling mencintai, menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya, dengan penciptaNya, sesamanya maupun dengan lingkunangnya.
5) Sosial Budaya; Keluarga merupakan transformator nilai-nilai budaya antar generasi sehingga mampu melestarikan nilai-nilai sosial budaya yang bermutu
6) Reproduksi; Keluarga merupakan tempat untuk mendidik anak-anaknya agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan alam sekitarnya untuk mengembangkan potensinya secara optimal
7) Sosialisasi dan Pendidikan; Keluarga merupakan tempat untuk mendidik anggota-anggotanya untuk memelihara keserasian lingkungan dengan faktor penyangga kehidupan

BAB III
MANUSIA DALAM KEHIDUPAN MENURUT AJARAN AGAMA HINDU
Agama adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai pedoman hidup agar dapat hidup dengan baik. Agama mengajarkan nilai-nilai moral sebagai hasil pemikiran tanpa dikendalikan oleh cahaya kebenaran agama, akan mudah menjurus tanpa dikendalikan oleh cahaya kebenaran agama, akan mudah menjurus kepada kesesatan. Manusia sebenarnya terdiri atas dua unsur, yaitu unsur ayah dan unsur ibu. 4 tujuan manusia dalam dunia, yaitu :
 Mencapai ajaran dharma/kebenaran
 Mencapai arta (harta yang dimiliki oleh manusia)
 Kama (hawa nafsu), menginginkan sesuatu tanpa batas.
Tuhan memang tidak bias dilihat namu dapat dirasakan. Pada agama hindu, bertapa, bersemedi, dan menenangkan diri dapat dianggap sebagai cara untuk merasakan adanya Keberadaan Tuhan dan berkomunikasi. Basarah adalah tempat ibadah suci bagi umat agama hindu, sedangkan basara adalah tempat balai pertemuan. Namun, secara umum tempat ibadah suci bagi umat agama hindu adalah ialah pura. Patmasama adalah tempat perembayangan yang ada di pura keluarga di dalam rumah.
Waktu untuk beribada bagi umat beragama hindu ada 3 waktu, yaitu pagi, dan menjelang malam. Umat hindu kaharingan percaya dengan adanya malaikat pelindung Allah, yaitu sahur parapah yang dipercaya dapat melindungi masyarakat Klaimantan Tengah dari marabahaya, salah satu contoh dari sahur parapah adalah Patahu.
Al-Ghazali seorang pemimpin keagamaan dan seorang sufi mengatakan bahwa “pendidikan agama harus dimulai sejak dini. Sebab usia dini anak siap menerima akidah-akidah keagamaan hanya dengan mempercayai tanpa minta argumentasi. Ia begitu senang menerima dan mempercayainya” Menanamkan agama dengan cara ini memang belum sempurna dan harus diikuti dengan tindak lanjut secara gradual sesuai dengan perkembangan intelektualnya. . Dalam hal ini, pendidikan agama di sekolah mempunyai 3 (tiga) fungsi, yaitu :

• Membina secara formal pendidikan agama yang telah dimulai di rumah tangga, yaitu memupuk jiwa keagamaan yang telah dimiliki.
• Mendorong terbentuknya kebiasaan dan sikap hidup menurut ketentuan agama Hindu .
• Menunjang tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional.

A. HAKEKAT MANUSIA
Hendaknya ia jangan kencing atau berak dalam air sungai, danau, laut, tidak pula meludah, juga tidak boleh berkata-kata kotor, tidak pula melemparkan sampah, darah, atau sesuatu yang berbisa atau beracun.
Agama diyakni sebagai risalah dari Tuhan yang bersifat teo_sentris, sementara moralitas kekuasaan dan masyarakat merupakan bagian dari agama. Seseorang manusia harus menjadi masyarakat yang bermoral dan melaksanakan kode etik yang ada.
B. AGAMA DAN PEMBENTUKAN MASYARAKAT MADANI
Secara teologis, agama di samping menjadi keyakinan, juga memerankan dirinya sebagai sumber nilai yang mutlak dan universal. Sebagai sebuah nilai, agama menjadi kerangka etis dalam membangun moralitas kekuasaan dan masyarakat madani. Agama diyakini sebagai risalah dari Tuhan yang bersifat theo-centris, sementara moralitas kekuasaan dan masyarakat madani merupakan bagian dari antropo-centris yang menitik beratkan pada persoalan manusia dan legitemasinya pun diperoleh dari sesamanya.
Persoalan agama, moralitas kekuasaan dan masyarakat madani adalah persoalan manusia dan kemanusiaan. Hanya saja, letak perbedaannya yaitu agama merupakan respons manusia terhadap Tuhannya, sedangkan kekuasaan dan masyarakat madani merupakan respons dan tatakrama manusia sebagai makhluk sosial dalam konteks pergumulan dengan sesamanya.
Sebagai makhluk sosial yang beragama, manusia diharapkan bisa bertindak netral dan bersikap objektif. Sebagai agamawan, seharusnya tidak membiarkan dirinya berperilaku secara destruktif. Tetapi sebaliknya, sebagai agamawan harus menunjukkan citranya sebagai pelaku kekuasaan yang memiliki kesadaran moral dan etis yang lahir dari spirit keagamaan.
C. AGAMA SUMBER NILAI
Agama merupakan salah satu sumber nilai yang berlaku dalam pranata kehidupan manusia. Nilai agama adalah nilai yang ditintahkan oleh Tuhan melalui RasulNya, yang bertaqwa, adil, nijaksana, imam, yang diabadikan dalam wahyu(kitab suci). Nilai insane cenderung menjadi tradisi-tradisi, primodialisme, sekertarianisme, dan lebih-lebih sebagai penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia.

BAB IV
PERAWATAN JENAZAH MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN
Sebelum dikubur jenazah dirawat sebagaimana orang yang masih hidup. Adapun langka-langkah perawatannya adalah sebagai berikut :
A. Memandikan jenazah :
Yang disediakan pada saat memandikan jenazah itu,
a. Air dalam ember
b. Sabun mandi
c. Pakaian yang akan digunakan oleh jenazah
d. Sisir,cermin,minyak,bedak
e. Piring tempat menampung rambut.
Adapun yang pertama kita lakukan yaitu mengambil air menggunakan telapak tangan disertai dengan mengucapkan mantra. Setelah itu air tadi diusap kejenazah, karena yang pertama tercipta dari manusia yaitu mata. Kemudian diikuti dengan menyirami seluruh anggota badan jenazah sampai merata dengan menggosokan sabun disekujur tubuh jenazah dengan berulang-ulang sampai benar-benar bersih.
B. Mendandani jenazah
Setelah acara memandikan jenazah selesai selanjutnya jenazah dikenkan pakaian yang telah dipersiapkan dan didandani dengan pupur dibagian wajah, cermin, menyisir rambut serta diolesi minyak, ini dilakukan seperti seorang yang akan berpergian jauh. Kemudian jenazah yang telah selesai didandani, ditempatkan diatas bale-bale diberi galangan dengan menggunakan dua buah gong pada bagian ujung masing-masing. Posisi pada saat menempatkan jenazah diatas bale harus memperhatikan orang yang meninggal tersebut apakah laki-laki atau perempuan.
Bila yang meninggal adalah laki-laki maka posisi kepalanya berada di barat mengingat asal kejadian laki-laki yang pertama berasal dari arah laut manggantung. Sedangkan bila perempuan maka posisi kepala berada di timur, mengingat wanita berasal dari Hulu Batang Danum. Kemudian tangan jenazah tegak lurus berada disamping badan. Pada tangan sebelah kanan diberi telor ayam sebanyak satu butir dan sejumlah uang yang digenggam pada tangannya. Pada kedua matanya ditutup dengan uang logam serta dibagian mulut diberi Lamiang kemudian diatas dada jenazah ditaburi beras yang sudah diberikan warna merah dan kuning, sirih,pinang dan rokok kecil warna putih dengan posisi telungkup.

Telunjuk kaki jenazah kedua-duanya diikat, setelah menyisir rambut, dan piring tempat penampungan disimpan diatas kepala tempat menampung ujung rambut jenazah. Setelah itu ada sangku yang diisi Beras tempat mendirikan Patung Palawi. Diteruskan dengan pemukulan Gong (Nitih ) dengan jumlah pukulan tertentu. Apabila yang meninggal laki-laki maka jumlah pukulannya sebanyak tujuh kali, dan apabila perempuan maka Gong dipukul sebanyak lima kali. Diatas jenazah dibuat langkau dari kain, langkau itu tepat berada diatas tempat jenazah. Jenazah ditunggu oleh kelurga yang meninggal secara bergantian jangan sampai ditinggal dan jangan sampai dilangkahi oleh kucing, anjing karena sangat besar pantangannya.
C. Membuat Peti Jenazah
Sebelum membuat peti jenazah, maka terlebih dahulu jenazah diukur dengan menggunakan rotan, yang diikuti dengan pemukulan Gong sebanyak tujuh kali bila yang meninggal perempuan pemukulan Gongnya sebanyak lima kali. Ketika mau berangkat berangkat harus dilengkapi dengan alat-alat seperti : Beliung, Parang, Gergaji, Piring, Sendok, Panci, Mangkok, Gelas dan Beras. Sebelum menebang kayu untuk pembuatan peti maka telebih dahulu diadakan pemotongan ayam dan darahnya diambil untuk dicampurkan dengan beras selanjutnya untuk menaburkan pada batang kayu yang akan ditebang dengan maksud agar batang kayu tersebut dengan mulus tidak ada yang rusak, menjauhkan roh-roh jahat / roh orang yang meninggal tidak mengganggu orang-orang yang mengerjakan peti jenazah tersebut. Sebelum peti itu bawa masuk kedalam rumah harus dibunyikan gong sesuai dengan jenis kelamin orang yang meninggal. Bila laki-laki sebanyak tujuh kali kalau perempuan sebanyak lima kali.
D. Proses Manyaluh Raung Peti Jenazah
Setelah raung ( peti jenazah ) sudah siap maka tinggal satu hari lagi untuk tinggal raung ( peti jenazahnya ) setelah tinggal satu hari baru dimasukan jenazah kedalam raung ( peti jenazah ) waktu memasukan kedalam petinya terdiri tiga sarat yaitu:
1. Serbuk Nyating ( Serbuk Damar )
2. Tamiang ( Tamiang Yang Sejenis Bambu )
3. Baliung ( Balayung )
Manyaluh Raung adalah mensucikan Raung secara sipiritual,yaitu yang dilakukan oleh seorang Basir / orang yang tua dan menghidupkan Tamiang Sejenis Bambu yang telah berisikan serbuk, nyating (Damar) lalu diayunkan mengelilingi Raung ( Peti jenazah ) sesuai dengan jenis kalamin orang yang meninggal dunia ( Bila Laki-Laki Sebanyak Tujuh Kali Putaran. dan Perempuan Sebanyak Lima Kali Putaran) kemudian memukul-mukulkan Raung dengan mata Beliung seraya mengucapkan mantra.

E. Memasukan Jenazah Ke dalam Raung/Peti Jenazah
Memasukan jenazah kedalam raung ( Peti jenazah ) diiringi dengan taburan beras merah dan kuning dicampurkan dengan Giling Pinang Rukun Tarahan di iringi dengan pemukulan Gong.
F. Berangkat Menggali Kubur
Yang perlu disiapkan terlebih dahulu sebelum menggali kuburan terbagi dalam dua syarat yang perlu disediakan yaitu:
1) Beras berwarna merah,kuning yang dicampurkan dengan giling pinang dan rokok.
2) Beras dicampur dengan darah mentah
Setelah sampai dikuburan, sebelum menggali kuburan, yang pertama kali dilakukan yaitu menabur Beras Merah Kuning yang dicampur Giling pinang dan Rokok tujuannya memberitahukan kepada Raja Entai Nyahu dengan Kameluh Tantan Dandayu tinggal di Tahanjungan Bukit Pasahan Raung Kereng Dararian Sapendan lunuk Tarung. Lalu setelah itu menabur beras dicampur dengan darah mentah yang tujuannya untuk Kamben Kambe Ngarungkung Sale, Kamben Lemba Nalawung Jela, Siak Sakung Malik Malem, Sirat Pasat Ngarungkung Tabuni, akan kare ganan bahutai diar ( Untuk Para Bhuta Kala ) agar mereka semua menerima Beras campur Darah Mentah, agar mereka tidak mengganggu semua kegiatan Ritual Upacara agar pekerjaan semua berjalan dengan lancar.
G. Upacara Penguburan
Penguburan adalah merupakan bagian dari ritus kematian tingkat awal, Upacara Penguburan merupakan hal awal dari proses kematian yang wajib dilakukan oleh masyarakat suku Dayak Kaharingan, terutama mereka yang menjadi salah satu penganut kepercayaan leluhur. Kematian merupakan jalan yang telah ditentukan oleh anying Hatalla bagi Keturunan Raja Bunu untuk kembali kepada-Nya. Dalam Panaturan Pasal 29 ayat 4 dinyatakan sebagai berikut: Hete RANYING HATALLA bapander panjang umba Raja Bunu, tuh bitim palus panarantang aim, akan ilaluhan kareh manyuang Batang Petak ije jadi injapaku hayak inyewut-Ku jete Pantai danum Kalunen tuntang panarantang aimte dapit jeha puna bagin matei .
Artinya :
Dengan panjang lebar Ranying Hatalla berfirman kepada Raja Bunu, firmannya : Untuk engkau ketahui Raja Bunu, bahwa engkau dan semua anak keturunanmu akan aku turunkan mengisi permukaan tanah bumi yang telah kuciptakan dan Aku sebut itu Kehidupan serta bagi anak keturunanmu nantinya, ia kembali kepada-Ku melalui kematian.
(Tim Panaturan, 1996 : 107-108 )

Berdasakan isi Panaturan tersebut dapat kita ketahui bahwa semua manusia telah ditakdirkan akan mengalami kematian. Dalam hal kematian ini Umat Hindu Kaharingan memiliki tata upacara Penguburan yang sesuai menurut ajaran agama Hindu Kaharingan dan Desa, Kala Dan Patra.
H. Pelaksanaan Upacara Penguburan
Pada saat pemakaman dilaksanakan melalui dua tahap yaitu:
1 Mampalua Raung Bara Huma (Mengeluarkan peti jenazah dari rumah duka ) Sebelum peti jenazah dibawa keluar rumah duka terlebih dahulu disiapkan sarana sebagai berikut:
a. Danum karak yaitu air yang dicampur dengan kerak nasi
b. Tampung papas ( Sarana mamapas yang terdiri dari daun andung / sawang gagar dan daun kayu tungkun )
c. Darah hewan korban
d. Beras tawur ( Beras yang berwarna merah dan kuning )
e. Giling pinang rukun tarahan
f. Bua baluh ( kendi berisi air )
g. Sumbu ( lampu tembok )
Setelah semua sarana telah siap maka peti jenazah dibawa kepintu rumah dengan posisi, laki-laki kepala kearah luar tetapi kalau perempuan posisi kepalanya kedalam rumah. Kemudian dilanjutkan dengan mamapas raung (mensucikan peti jenazah) dengan sarana dengan danum yayah dan tampung papas yang disertai dengan mantra kemudian peti jenazah diayun-ayunkan kelur masuk ditengah-tengah pintu atau lawang rumah, bila sudah keluar peti manyat tersebut kendi air langsung dipecahkan dimuka pintu rumah supaya sial kita itu habis dibawanya, apabila laki-laki diayunkan sebanyak tujuh kali, Bila perempuan diayunkan sebanyak lima kali diiringi bunyi panyung (Bunyi Gong) peti jenazah langsung dibawa keluar pintu rumah langsung menuju tempat peristaratan yang terahir (Tempat pemakaman).
I. Peti jenazah berada dipemakaman
1). Menyerahkan jenazah kepada Raja Entai Nyahu ( dewa penunggu kuburan )
2). Peti jenazah diletekan diatas liang kubur dan ditopang galangan kayu supaya almarhum diserahkan kepada Raja Entai Nyahu (Dewa penunggu kuburan )
3). Acara penyerahan jenazah kepada Raja Entai Nyahu (Dewa penunggu kuburan) dipimpin oleh seorang basir (rohaniwan) dilaksanakan dengan cara manawur (Manabur Beras Tabur) yang telah disiapkan, bertujuan agar almarhum diterima disisi Ranying Hatalla Langit ( Tuhan ).

J. Acara Pemakaman
1). Setelah acara menyerahkan jenazah kepada Raja Entai Nyahu ( Dewa Penunggu Kuburan ) langsung dilaksanakan pemakaman.
2). Dalam acara pemakaman peti jenazah dimasukan keliang kubur ditutup dengan tanah dan langsung ditancapkan (mendirikan) batu nisan dilanjutkan dengan mambelep sumbu (Matikan Lampu) sebanyak tiga kali berturut-turut dengan diiringi mantra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s